Meri Totora dan Masa Depan Pala: Adat sebagai Penjaga Mutu dan Martabat

Fakfak, Kabarsulsel-Indonesia.com | Siang itu, Aula Kantor Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak tak hanya dipenuhi deret kursi dan map-map berisi data produksi.

Di ruangan itu, suara adat bersua dengan angka-angka tata niaga. Pemerintah, DPRD, dinas teknis, pelaku usaha, hingga pengumpul duduk sejajar. Namun yang paling mencuri perhatian justru satu pengingat sederhana: pala bukan sekadar komoditas.

Ketua Dewan Adat Mbaham Matta, Apnel Hegemur, duduk dengan tenang. Ia tak memulai dengan grafik atau statistik. Ia memulai dengan falsafah.

“Kita bicara mutu dan harga. Tapi sebelum itu, kita harus mengenal dulu filosofinya,” ujarnya.

Bagi masyarakat Mbaham Matta, pala bukan hanya buah yang dikeringkan dan ditimbang. Ia adalah warisan. Ada tahapan untuk sampai pada buah itu: mengenal gunungnya, menghormati pohonnya, memahami musimnya. Tak ada yang serba instan.

Apnel mengibaratkan pala seperti meminang seorang gadis. Ada proses, ada tata cara, ada pengesahan adat sebelum ia sah menjadi milik. Analogi itu membuat ruangan hening. Di tengah pembahasan pengendalian tata niaga dan harga layak, tiba-tiba semua diingatkan pada akar yang lebih dalam: etika.

Ritual sebagai Disiplin

Gagasan yang ia tawarkan bukan simbolik belaka. Dewan Adat Mbaham Matta berencana menggelar Ritual Akbar Meri Totora sebuah upacara adat yang menghimpun seluruh marga yang memiliki relasi historis dengan pala, juga pengusaha, pengumpul, hingga instansi teknis vertikal.

Ritual itu bukan seremoni kosong. Di dalamnya ada pesan tentang waktu panen, tentang penghormatan pada alam, tentang disiplin sebelum buah dipetik. Generasi muda akan diajak mengenal pohon pala bukan hanya sebagai sumber uang, melainkan sebagai identitas.

“Kalau adatnya kita pegang, saya optimistis mutu dan produksi akan kembali terjaga,” kata Apnel.

Optimisme itu berangkat dari ingatan kolektif. Sebelum 1990-an, petani menyebut kualitas dan kuantitas pala Fakfak lebih baik. Setelah itu, pelan-pelan menurun.

Penyebabnya berlapis: pola budidaya yang berubah, tata niaga yang belum tertata, hingga fluktuasi pasar. Namun bagi lembaga adat, tergerusnya nilai kultural ikut menyumbang kemunduran.

Harga Layak, Marwah Terjaga

Di sisi lain meja, pemerintah daerah melalui Tim Pengendali Komoditas Unggulan Daerah menegaskan komitmen memperkuat sistem pengamanan mutu dan pengendalian tata niaga. Tujuannya jelas: memastikan harga yang layak bagi petani dan kepastian usaha bagi pelaku pasar.

Apnel menyambutnya sebagai momentum penting. Baginya, petani pala adalah garda terdepan penjaga marwah. Memberi mereka harga yang adil bukan semata kebijakan ekonomi, melainkan bentuk penghargaan terhadap kerja dan warisan.

“Keberlanjutan pala Fakfak bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Ini tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.

Fakfak selama ini dikenal sebagai salah satu sentra pala di Papua Barat. Dalam sejarah panjang perdagangan rempah Nusantara, pala pernah menggerakkan kapal-kapal dari jauh. Kini, di tengah pasar global yang fluktuatif, daya saing tak lagi cukup bertumpu pada volume. Mutu menjadi kata kunci.

Namun di Fakfak, mutu punya makna ganda. Ia bukan hanya soal kadar air atau standar sortasi. Mutu juga menyangkut cara manusia memperlakukan pohon, tanah, dan relasi sosial di sekitarnya.

Pertemuan siang itu menunjukkan satu hal: tata niaga bisa dirapikan dengan regulasi, harga bisa diupayakan lewat kebijakan. Tetapi tanpa fondasi nilai, semuanya mudah goyah.

Di tanah Mbaham Matta, pala tidak sekadar dipanen. Ia dipinang. Dan dalam proses meminang itu, masyarakat belajar tentang hormat, kesabaran, dan tanggung jawab lintas generasi.

Jika ritual dan regulasi berjalan seiring, Fakfak bukan hanya menjaga komoditas. Ia menjaga jati dirinya.

Komentar