Tiakur, Kabarsulsel-Indonesia.com | Sorotan tajam datang dari Polpega FC terhadap penyelenggaraan Turnamen Bupati Club II di Kabupaten Maluku Barat Daya.
Klub ini menyampaikan kekecewaan mendalam atas buruknya kualitas penyelenggaraan, khususnya terkait pencahayaan lapangan pertandingan malam hari yang dinilai jauh dari standar profesional.
Pertandingan yang digelar hingga larut malam itu berlangsung di bawah cahaya lampu yang tak lebih terang dari lampu taman kota. Remang-remangnya penerangan membuat para pemain kesulitan membaca arah bola, bahkan membahayakan keselamatan mereka. Sorakan kecewa dari penonton pun terdengar sejak menit-menit awal laga.
“Kami sangat menyayangkan sikap abai panitia dan Askap MBD terhadap aspek teknis krusial seperti pencahayaan. Ini bukan sekadar pertandingan persahabatan, ini turnamen resmi. Lampu lapangan seharusnya jadi kebutuhan dasar, bukan aksesori tambahan,” tegas salah satu pengurus Polpega FC saat ditemui seusai pertandingan.
Tak hanya pemain, penonton yang datang dari berbagai penjuru MBD pun turut menyuarakan kekecewaan. Mereka mengaku perjalanan panjang yang ditempuh untuk menyaksikan pertandingan berubah jadi pengalaman yang mengecewakan.
“Lampunya seperti lampu jalan rusak. Bagaimana kami bisa menikmati pertandingan kalau nyaris tak terlihat? Padahal ini turnamen tingkat kabupaten,” ujar seorang warga Tiakur.
Minimnya standar penyelenggaraan ini memunculkan pertanyaan publik tentang kesiapan panitia dan pengawasan dari Askap MBD selaku badan penyelenggara sepak bola di daerah.
Di tengah geliat sepak bola lokal yang mulai menggeliat, turnamen semacam ini seharusnya menjadi momentum pembuktian kualitas organisasi dan dukungan infrastruktur olahraga.
Polpega FC mendesak evaluasi menyeluruh terhadap panitia dan Askap MBD, serta mendorong adanya perbaikan signifikan dalam penyelenggaraan turnamen ke depan.
Pencahayaan, menurut mereka, hanyalah salah satu dari sekian aspek penting yang harus dibenahi bila ingin menciptakan atmosfer pertandingan yang aman, kompetitif, dan layak secara profesional.
“Sepak bola daerah bisa maju, tapi tidak dengan cara seperti ini. Profesionalisme itu dibangun dari hal-hal mendasar, bukan dibiarkan redup seperti lampu lapangan kemarin,” pungkas pengurus Polpega FC.








Komentar