Lupa Sejarah, Siap Kehilangan Arah

Jakarta, NEWS80 views

Peringatan dari Senayan tentang ingatan kolektif yang kian memudar.

Jakarta, Kabarsulsel-Indonesia.com | Nada suara itu tak tinggi, tetapi pesannya tajam. Di ruang parlemen yang kerap riuh oleh silang pendapat, anggota Komisi III DPR RI Fraksi Demokrat, Benny Kabur Harman, memilih mengingatkan soal sesuatu yang lebih sunyi: sejarah.

Menurut Benny, bangsa yang abai pada sejarah ibarat kapal tanpa kompas. Ia berjalan, tetapi tak tahu menuju mana.

“Kebijaksanaan tidak jatuh dari langit. Ia lahir dari keberanian membaca dan mengakui pelajaran masa lalu,” ujarnya.

Pernyataan itu bukan tanpa konteks. Dalam beberapa waktu terakhir, perdebatan publik kerap dipenuhi simbol dan retorika. Sejarah dikutip di podium-podium, namun kerap berhenti sebagai ornamen pidato. Substansinya jarang disentuh.

Benny mengingatkan, sejarah seharusnya menjadi alat ukur paling jujur untuk menilai arah kepemimpinan. Tanpa kesadaran historis, kebijakan mudah terseret kepentingan jangka pendek. Yang tampak cepat, belum tentu tepat.

Indonesia, katanya, sudah berkali-kali diberi “alarm keras”. Sumpah Pemuda 1928 bukan sekadar slogan persatuan, melainkan fondasi kebangsaan yang lahir dari kesadaran akan ancaman perpecahan. Fondasi itu kini diuji kembali oleh polarisasi sosial dan politik yang menguat.

Pelajaran lain datang dari Orde Baru. Stabilitas memang tercipta, tetapi kontrol yang minim dan kritik yang dibungkam menyisakan catatan panjang tentang kekuasaan yang terlalu dominan. Sejarah mencatat, stabilitas tanpa pengawasan berisiko berubah menjadi represi.

Krisis moneter Asia 1997 juga menjadi penanda. Sistem yang tampak kokoh bisa runtuh dalam hitungan bulan. Dampaknya bukan hanya ekonomi, melainkan juga politik memicu perubahan besar yang menggeser arah bangsa.

Para pendiri bangsa seperti Soekarno dan Mohammad Hatta, lanjut Benny, mewariskan lebih dari sekadar visi. Mereka menunjukkan cara membaca realitas secara jernih dan keberpihakan pada rakyat sebagai kompas utama.

Bagi Benny, tantangan terbesar Indonesia hari ini bukan kekurangan gagasan. Negeri ini kaya ide dan sumber daya. Yang lebih mendesak adalah keberanian untuk jujur pada sejarahnya sendiri.

Tanpa itu, pembangunan berisiko menjadi pengulangan kesalahan lama dengan wajah baru.

“Melupakan sejarah bukan sekadar kelalaian, itu awal dari kehilangan arah sebagai bangsa,” katanya.

Ajakan itu sederhana, tetapi tidak ringan: jangan sekadar mengingat, melainkan menguji setiap kebijakan dengan cermin sejarah. Di sanalah, barangkali, terletak batas tipis antara kepemimpinan yang visioner dan yang sekadar reaktif.

Komentar