oleh

Lahelu’u Fau Raja Desa Orahili Fau di Masa Kepemimpinannya Mengusir Belanda di Nias Bagian Selatan

KabarSulselIndonesia (Nias Selatan)

Dari pernyataan seorang Tokoh Masyarakat Orahili Fau Bapak Sukaramai Fau sekaligus namanya dari gelar bangsawan Samaeri Sihōnō sekaligus beliau salah satu cucu dari Raja Lahelu’u Fau.

Ketika dikonfirmasi (6/11/21) tentang Raja Lahelu’u Fau menyatakan, Lahelu’u Fau dijadikan Raja Desa Orahili Fau karena dia anak dari seorang Bangsawan.

Sebab yang tadinya menjadi Raja pertama di Kampung Orahili bernama Raja Owatua Fau dengan gelar kebangsawanannya Tuha ōri faulo dan memiliki anak 4 orang yaitu:

  1. Lahelu’u Fau,
  2. Bofōna Fau,
  3. Fōna Oli’ō Fau,
  4. Tuhegeho Fau.

Sewaktu waktu Bapak Owatua Fau menobatkan / menobatkan putra Lahelu’u Fau sebagai Raja memimpin Kampung Orahili Fau untuk selanjutnya dan diberi gelar bangsawan TUHA SIWABADANO LAWA.

Sejak saat itu Desa Orahili Fau dipimpin oleh Raja Lahelu’u Fau.

Tepat pada tahun 1840 terjadi peperangan antara Belanda dengan Orahili Fau.

Tentara Belanda kalah dipukul mundur oleh masyarakat Orahili Fau dibawah kepimpinan Lahelu’u Fau.

Dengan kekalahan Belanda saat itu, Tiba tiba Belanda kembali menyerang Desa Orahili Fau pada tahun 1855 ternyata tentara Belanda kalah dikomandanin oleh Raja Lahelu’u Fau.

Hanya selang 1 tahun Belanda menyerang Orahili Fau lagi tepat pada tahun 1856 namun Belanda kalah lagi karena sistim perang sangat sengit dan Gerilya.

Sehingga pada saat itu muncullah istilah Belanda dalam peperangan melawan Orahili Fau karena kekalahannya menyatakan sistim perang Orahili Fau adalah PERANG POHON.

Serta menjuluki Orahili Fau dibawah kepemimpinan Raja Lahelu’u Fau adalah “PENGUSIR BELANDA DIBUMI NIAS BAGIAN SELATAN”.

Pada tahun 1863 pasukan Belanda menyerang Orahili Fau dengan kekuatan besar didatangkan dari Batavia (Jakarta) 5 Kapal perang, 601 orang jumlah tentara, 27 orang perwira dan 4 meriam perang.

Dengan kekuatan besar dari Belanda Desa Orahili Fau dibumi hanguskan / dibakar oleh Belanda.

Namun sebelumnya Raja Lahelu’u dan warga Orahili telah menyelamatkan diri keluar dari Desa Orahili menuju lokasi yang namanya Baruzō Sifaedo, warga orahili fau bermukim disana.

Tepat pada tahun 1871, Raja Lahelu’u Fau bersama semua warga Orahili Fau berpindah lokasi ke Fanayama bermukim disana.

Namun tetap memberi perlawanan kepada tentara Kolonial Belanda.

Pada tahun 1873, karena mereka perhatikan fanayama kurang tepat dengan tempat pemukiman , maka mereka pindah lagi dilokasi yang namanya BAJO AFASI. Disebut tempat Bajo Afasi karena dilokasi itu banyak pohon Kapas (Afasi) dalam bahasa Indonesia Kapas.

Oleh karena mereka merasa nyaman untuk tempat pemukiman maka mereka betah tinggal disitu sehingga diberi nama HILISOROMA LUO.

Beberapa saat kemudian mereka mengukuhkan memberi nama Hilisoroma Luo itu menjadi Bawōmataluo.

Sekarang secara administratif Desa Bawōmataluo Kecamatan Fanayama Kabupaten Nias Selatan.

Pada Tahun 1893 sebagian warga dari desa Bawōmataluo pindah kembali ke desa Orahili Fau sebanyak 30 orang Kepala Keluarga yang dipimpin oleh ZIKHAZATARO FAU cucu dari Raja Lahelu’u Fau.

Beberapa saat kemudian menyusul tahap kedua dari Bawōmataluo pindah lagi dan bermukim didesa Orahili Fau lama sebanyak 70 orang Kepala Keluarga yang dipimpin oleh TUHO BADANō yang merupakan anak/ putra kedua dari Raja Lahelu’u Fau.

Yang secara administratif Desa Orahili Fau Kecamatan Fanayama Kabupaten Nias Selatan.

Rombongan Tuho Badano Fau yang 70 Kepala Keluarga ikut serta ayahnya Raja Lahelu’u Fau ke Orahili. Namun, yang masih tinggal dan bermukim di Bawōmataluo adalah anak/ putra pertama dari Raja Lahelu’u Fau bernama KAMōRō beserta dengan anak cucu dan warga lainnya.

Tetap kedua desa ini Bawōmataluo dan Orahili Fau tetap satu dalam kesatuan dan bertekad untuk mengusir Belanda dari Bumi Nias Bagian Selatan ini. Sehingga pada tahun 1914 pemerintah kolonial Belanda memberi pernyataan bahwa Belanda telah menguasai Nias ( dalam arti seluruh Kepulauan Nias). (KORWIL KEP NIAS-Martaf)

Komentar

Berita Lainnya