Pulang ke Kampung Halaman, Sekda Papua Barat Ali Baham Temongmere Rawat Tradisi Malam Lailatul Qadar di Kotam

Fakfak, Kabarsulsel-Indonesia.com |  Malam itu, Kampung Kotam di Distrik Fakfak Timur Tengah tampak berbeda. Cahaya obor dari kulit siput yang menyala dengan minyak kelapa menerangi jalan-jalan kampung. Tradisi lama kembali hidup, menyambut malam yang diyakini masyarakat sebagai malam penuh berkah: Lailatul Qadar.

Di tengah suasana religius itu, Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat, Drs. Ali Baham Temongmere, M.TP yang akrab disapa ABT pulang ke kampung kelahirannya. Bukan sekadar kunjungan resmi, melainkan pulang sebagai anak kampung yang ingin merawat ingatan, tradisi, dan kebersamaan dengan masyarakatnya.

Kunjungan tersebut merupakan rangkaian Safari Ramadan Pemerintah Provinsi Papua Barat di Kabupaten Fakfak pada Sabtu, 14 Maret 2026. Setibanya di Fakfak, ABT terlebih dahulu menyempatkan diri mengunjungi Pasar Ramadan untuk berburu takjil sebagai persiapan berbuka puasa.

Usai berbuka, ABT melaksanakan sholat Isya dan Tarawih di Masjid Agung Baitul Makmur Kabupaten Fakfak. Pada kesempatan itu, ia juga menyampaikan kultum singkat yang mengajak masyarakat menjadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat persaudaraan dan kepedulian sosial.

Namun agenda paling bermakna justru terjadi sehari setelahnya. Pada Sabtu, 15 Maret 2026, ABT bersama keluarga bertolak menuju Kampung Kotam kampung kelahirannya. Di tempat itulah ia berbuka puasa bersama warga sekaligus menyerahkan puluhan paket sembako kepada masyarakat setempat.

Kehadiran ABT di Kotam bertepatan dengan tradisi malam Lailatul Qadar yang oleh masyarakat setempat juga dikenal sebagai Malam Damar. Tradisi ini telah diwariskan turun-temurun dan masih dijaga dengan penuh khidmat oleh warga.

Rangkaian kegiatan diawali dengan ziarah ke makam orang tua dan keluarga. Warga bersama-sama memanjatkan doa bagi mereka yang telah lebih dahulu berpulang. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan terhadap leluhur serta pengingat akan nilai kekeluargaan yang kuat dalam masyarakat Kotam.

Menjelang malam, suasana kampung berubah magis. Obor-obor yang terbuat dari kulit siput dinyalakan menggunakan minyak kelapa asli. Nyala obor itu bukan sekadar penerang, tetapi juga simbol harapan dan doa di malam yang diyakini lebih baik dari seribu bulan.

Sekda Papua Barat Drs. Ali Baham Temongmere, M.TP saat membaca doa di Masjid Al-Muhajrin Kampung Kotam | Foto Istimewah KSI

Menariknya, tradisi menyalakan obor tersebut dilakukan oleh petugas masjid sebagai tanda dimulainya malam penuh keberkahan.

Di Masjid Al-Muhajirin Kampung Kotam, ABT kemudian melaksanakan salat Magrib dan Tarawih bersama masyarakat. Setelah ibadah selesai, ia menyerahkan puluhan paket sembako kepada warga sebagai bentuk kepedulian dan kebersamaan di bulan suci Ramadan.

Bagi masyarakat Kotam, kehadiran ABT bukan hanya sebagai pejabat tinggi pemerintah daerah, melainkan juga sebagai putra kampung yang tidak melupakan akar dan tradisinya.

Malam itu, di bawah cahaya obor tradisi, pesan sederhana terasa kuat: jabatan boleh tinggi, tetapi kampung halaman tetap menjadi tempat pulang yang paling berarti.

Komentar