Bintuni, Kabarsulsel-Indonesia.com | Gelap yang menyelimuti Kampung Tanah Merah Baru dan Saengga sejak 5 Januari 2026 perlahan menemukan titik terang. Setelah hampir dua bulan warga bergulat dengan pemadaman listrik akibat kerusakan trafo milik PLN, solusi darurat akhirnya disepakati: pemanfaatan genset cadangan milik negara yang berada di bawah pengelolaan bp Indonesia untuk mendukung penyediaan listrik sementara.
Kesepakatan itu tercapai melalui koordinasi antara bp sebagai operator proyek Tangguh LNG, Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni, dan PLN, setelah memperoleh persetujuan pemerintah pusat. Genset yang sebelumnya disiapkan sebagai cadangan operasional kini dialihkan sementara guna menopang kebutuhan listrik darurat masyarakat.
Pemadaman yang berlangsung sejak awal tahun bukan sekadar gangguan teknis. Ia menjelma krisis sosial. Aktivitas ekonomi tersendat, fasilitas umum terganggu, dan yang paling mendesak, operasional pompa air bersih terhenti. Dalam suasana Ramadan, ketika kebutuhan air dan listrik meningkat, kondisi itu menambah beban warga.
“Kami memahami sepenuhnya dampak yang dirasakan masyarakat akibat pemadaman listrik ini. Sejak awal, fokus kami adalah memastikan keselamatan, membantu menjaga kebutuhan dasar warga—terutama akses air bersih—serta mendukung PLN untuk menemukan solusi darurat yang dapat segera dijalankan,” ujar Becky Unidjaja, Vice President Communications & External Affairs bp Indonesia melalui siaran pers yang diterima media ini senin, (02/03).
Menurut Becky, dukungan ini bersifat kemanusiaan. Tanggung jawab penyediaan dan pemulihan listrik tetap berada pada PLN sesuai ketentuan yang berlaku. Namun dalam situasi darurat, koordinasi lintas lembaga menjadi keniscayaan.
Sejak gangguan terjadi, bp mengintensifkan komunikasi dengan PLN di berbagai tingkatan serta Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni. Selain menyediakan genset dan peralatan pendukung, perusahaan energi itu juga memasok bahan bakar minyak untuk memastikan pompa air bersih tetap beroperasi. Upaya ini dimaksudkan agar kebutuhan paling mendasar warga—air—tidak ikut terputus.
Di tengah situasi yang serba terbatas, komunikasi dengan masyarakat kampung disebut terus dijaga. Transparansi perkembangan penanganan menjadi kunci untuk meredam keresahan sekaligus membangun kepercayaan publik.
Langkah pemanfaatan genset cadangan ini diharapkan menjadi jembatan menuju perbaikan permanen trafo oleh PLN. Sembari menunggu proses tersebut rampung, cahaya dari genset darurat diharapkan mampu menghidupkan kembali denyut aktivitas Tanah Merah Baru dan Saengga—dua kampung yang sempat terhenti oleh gelap berkepanjangan.
Bagi bp, krisis ini menjadi pengingat bahwa operasi industri di wilayah terpencil tak terpisahkan dari denyut kehidupan masyarakat sekitar. Di Teluk Bintuni, listrik bukan semata aliran daya, melainkan penopang ekonomi, kesehatan, dan martabat hidup sehari-hari.








Komentar