Skandal Penggelapan Aset Ohoi Abean: Bendahara dan Perangkat Terlibat, Warga Angkat Suara

Maluku Tenggara, Kabarsulsel-Indonesia.com | Kekacauan pengelolaan aset di Ohoi Abean Kamear, Kecamatan Kei Kecil Timur, kembali mencuat ke permukaan setelah dugaan pencurian sejumlah aset ohoi oleh perangkat ohoi terungkap.

Kasus ini melibatkan Ketua Badan Saniri Ohoi (BSO) Abean, Abdul Kadir L. Menyurih, yang diduga mencuri kabel lampu, serta Bendahara Ohoi, Acal Toatubun, yang diduga menjual sepeda motor Fino merah milik ohoi.

Tak hanya itu, proyek irigasi Ohoi Abean senilai miliaran rupiah pada tahun 2018 turut menjadi korban penjarahan. Ahmad Toatubun alias AT dilaporkan mencuri mesin air dan pipa besi dari proyek tersebut, yang kemudian diangkut menggunakan mobil Bumo Ohoi. Peristiwa ini disaksikan langsung oleh warga setempat, Daud Yusar (DY) dan Ramlan Lewanusa (RL).

Meski tanggung jawab pengelolaan aset berada di bawah kendali Sekretaris Ohoi, Faisal Toatubun, pengawasan yang lemah diduga menjadi celah bagi praktik-praktik penyalahgunaan aset ini.

Warga menduga ada kolusi di balik lemahnya pengawasan sehingga aset-aset ohoi bebas dijual dan dimanfaatkan oleh oknum tertentu.

Atas situasi ini, warga Ohoi Abean, yang diwakili oleh Abu Samad Kobarubun, Baco Difinubun, Mohammad Amir Kobarubun, dan Anshari Difinubun, mengajukan laporan resmi kepada Kapolres Malra, AKBP Frans Duma, pada 27 Desember 2024.

Dalam laporan tersebut, warga meminta aparat kepolisian segera menindaklanjuti dugaan kejahatan ini demi memulihkan kondisi ohoi yang semakin memprihatinkan.

Kondisi Aset Ohoi yang Memprihatinkan

Abu Samad Kobarubun mengungkapkan bahwa banyak aset ohoi saat ini tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Balai rakyat, misalnya, telah berubah menjadi tempat tinggal warga.

Rumah produksi bawang, bangunan posyandu, dan PAUD Ohoi Abean kini terbengkalai, bahkan terlihat seperti kandang ternak.

Hal serupa juga terjadi pada pom bensin Bumo Ohoi dan mobil Bumo, yang kini tidak lagi digunakan untuk kepentingan masyarakat.

Warga menilai kondisi ini sebagai akibat dari tidak adanya fungsi kontrol yang memadai, baik dari Penjabat Ohoi maupun Sekretaris Ohoi.

“Aset-aset ini dibiarkan rusak dan kehilangan nilai manfaat, seolah-olah merupakan bangunan kuno yang tak lagi berarti,” kata Kobarubun.

Tuntutan Warga untuk Perubahan

Warga berharap laporan yang diajukan kepada Kapolres Malra dapat menjadi langkah awal untuk membongkar praktik-praktik tidak terpuji di Ohoi Abean.

Mereka meminta agar pelaku-pelaku yang terlibat dalam penggelapan aset segera ditindak tegas dan aset-aset ohoi dapat dikelola dengan baik demi kemajuan bersama.

“Aset ohoi adalah milik kita bersama. Jika tidak ada langkah nyata untuk melindunginya, maka Ohoi Abean akan semakin terpuruk,” tutup Kobarubun.

Warga Ohoi Abean kini menanti tindakan nyata dari pihak berwenang untuk menyelamatkan aset ohoi dan mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan ohoi yang bersih dan transparan.

Komentar