Pemuda Suku 80 Banda Ely Gagas Lomba Inovatif Sambut HUT RI ke-80

Banda Ely, Kabarsulsel-Indonesia.com |  Semangat kemerdekaan menyala lebih terang di ujung timur Kepulauan Kei. Menyongsong Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-80, Pemuda Banda Ely yang tergabung dalam Suku 80 memantik suasana penuh kegembiraan melalui serangkaian lomba inovatif yang membaurkan unsur tradisi, edukasi, dan sportivitas.

Dari arena lari karung hingga panggung puisi, geliat kemeriahan terasa hingga ke lorong-lorong kampung. Tak hanya anak-anak, para orang tua pun turut ambil bagian dalam menyemarakkan kegiatan yang dihelat di Kecamatan Kei Besar Utara Timur itu.

“Ini bukan sekadar lomba, tapi perayaan kebersamaan dalam semangat kemerdekaan,” kata Moh. Rizal Rumra, Ketua Panitia, Sabtu, 3 Agustus 2025.

Ia menyebut, antusiasme warga jauh melampaui ekspektasi panitia. “Semua bersatu, semua berbahagia. Inilah esensi dari Indonesia merdeka,” ujarnya.

Perayaan ini merupakan kelanjutan dari sukses peringatan HUT RI ke-79 tahun lalu. Semangat itu kini ditransformasikan menjadi momen yang lebih inklusif. Pelajar SD dan SMP bertarung dalam lomba makan kerupuk, lari karung, hingga cerdas cermat.

Para pemuda menampilkan aksi kompak dalam lomba gerak jalan dan tarik tambang. Ada pula pertandingan sepak bola antar-SD yang memunculkan bibit-bibit muda sepak bola dari kampung.

Tak sekadar fisik, ruang ekspresi intelektual dan seni pun diberikan panggung. Lomba puisi untuk siswa SD menggugah rasa nasionalisme dan mendorong literasi sejak usia dini.

Penjabat Kepala Ohoi Banda Ely, Sindang Salamun, memberikan dukungan penuh pada kegiatan ini.

“Pemuda adalah tulang punggung bangsa. Kegiatan seperti ini memperlihatkan bagaimana mereka mampu mengelola perayaan dengan cara yang bermakna dan menggembirakan,” ujarnya.

Tak muluk-muluk, semangat kemerdekaan kali ini mengalir dalam bentuk konkret: kolaborasi antarwarga, keterlibatan lintas usia, dan kebahagiaan yang merata.

Pemuda Banda Ely membuktikan bahwa nasionalisme tak selalu hadir dalam balutan seremoni formal. Ia bisa menjelma dalam tawa anak-anak, peluh para panitia, dan langkah barisan gerak jalan yang harmonis.

Dengan semboyan “Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat,” para pemuda desa ini meneguhkan peran strategis mereka: menjadi jembatan antara tradisi dan kemajuan, antara semangat lokal dan identitas nasional.

Komentar