Fakfak, Kabarsulsel-Indonesia.com | Suasana Pasar Thumburuni pada Kamis (25/9) terlihat berbeda. Sejak pagi, para pedagang sibuk beraktivitas, namun kali ini mereka kedatangan tamu penting: Bupati Fakfak, Samaun Dahlan, S.Sos., M.AP. dan Wakil Bupati Fakfak Drs. Donatus Nimbitkendik, M.TP
Kehadiran orang nomor satu di Kabupaten Fakfak itu bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan langkah nyata untuk melihat dari dekat denyut nadi perekonomian rakyat sekaligus merespons berbagai persoalan yang selama ini dirasakan pedagang.
Pasar Thumburuni memang menjadi pusat perdagangan dan interaksi sosial masyarakat Fakfak. Dari sini, alur distribusi sayur, buah, ikan, hingga kebutuhan pokok rumah tangga berputar.
Namun, di balik keramaiannya, masih tersimpan masalah klasik: penataan kios, akses yang terbatas, hingga dominasi produk luar yang kian menekan pedagang dan petani lokal.
Aspirasi Pedagang dan Janji Penataan
Dalam dialog singkat dengan para pedagang, Bupati mendengar langsung keluhan terkait sepinya lantai dua pasar. Banyak kios di bagian atas terlihat lengang, bahkan sebagian pedagang terpaksa memindahkan barang dagangannya ke lantai satu agar tetap laku.
“Kita akan buka akses jalan menuju lantai dua supaya pembeli lebih mudah naik. Kalau aksesnya jelas dan nyaman, pedagang di sana juga bisa hidup,” ujar Samaun Dahlan.
Menurutnya, solusi teknis sedang dikaji bersama instansi terkait, mulai dari penataan jalur hingga kemungkinan penambahan fasilitas penunjang.
Zonasi Perdagangan: Thumburuni untuk Hasil Bumi
Bupati juga menyinggung rencana zonasi pasar di Fakfak. Menurutnya, pedagang harus ditempatkan sesuai karakter produk agar tidak tumpang tindih.
Kawasan Kelapa Dua, misalnya, akan diarahkan menjadi pusat perdagangan pakaian dan barang non-pangan. Sementara itu, Pasar Thumburuni akan difokuskan sebagai sentra sayur-mayur, buah, dan hasil bumi dari petani lokal.
“Kalau teratur, pembeli juga lebih mudah mencari kebutuhan. Thumburuni tetap jadi pusat hasil kebun, sedangkan pakaian kita fokuskan di Kelapa Dua. Dengan begitu, pedagang dan petani sama-sama diuntungkan,” jelasnya.
Kontrol Produk Luar, Perlindungan untuk Petani Fakfak
Samaun Dahlan juga menyoroti keberadaan produk luar, khususnya yang datang dari Amahai yang membanjiri pasar lokal. Produk tersebut kerap dijual dengan harga lebih murah sehingga menyulitkan petani Fakfak bersaing.
“Harus ada kontrol agar produk luar tidak seenaknya masuk dan menguasai pasar. Kalau dibiarkan, petani kita yang rugi. Hasil bumi lokal harus jadi prioritas,” tegasnya.
Ia menambahkan, pemerintah daerah akan mengkaji regulasi pengendalian arus barang, sekaligus mendorong koperasi tani untuk lebih aktif dalam distribusi hasil panen. Upaya ini diharapkan tidak hanya memberi perlindungan bagi petani, tetapi juga memastikan rantai pasok berjalan sehat dan berkeadilan.
Pasar Sebagai Wajah Ekonomi Rakyat
Bupati menekankan, pasar tradisional bukan sekadar tempat jual beli, melainkan wajah ekonomi rakyat Fakfak. Karena itu, pemerintah daerah berkomitmen menjadikan Pasar Thumburuni sebagai pasar yang tertata, higienis, dan nyaman.
“Kita ingin pasar ini jadi etalase kesejahteraan masyarakat. Dari pasar, kita bisa lihat langsung denyut ekonomi rakyat. Kalau pedagang dan petani sejahtera, maka ekonomi daerah ikut bergerak,” katanya.
Kunjungan ini menutup dengan pesan kuat: pemerintah akan lebih hadir dalam mengawal dinamika ekonomi rakyat. Dari penataan ruang, zonasi perdagangan, hingga perlindungan produk lokal, semua diarahkan untuk membangun pasar yang adil bagi pedagang, petani, dan pembeli.
Pasar Thumburuni kini menanti wujud nyata janji itu—sebuah transformasi yang diharapkan benar-benar mengubah pasar menjadi pusat ekonomi rakyat yang lebih hidup dan berdaya.








Komentar