Fakfak, Kabarsulsel-Indonesia.com | Sore itu (Minggu, 07/12) di Taman Ma’ruf Amin, Bupati Fakfak Samaun Dahlan, S.Sos., M.AP., berdiri di hadapan awak media. Suaranya tenang namun tegas, memecah kerumunan kecil yang berkumpul di lokasi itu.
Di sisinya hadir Ketua Dewan Adat Mbaham Matta, Apnel Hegemur, Plt. Kepala Dinas Perkebunan Fakfak Widhi Asmoro Jati, S.T., M.T, serta sejumlah tokoh adat dan panitia pembangunan Masjid Nurul Islam Werpigan.
Di tengah suasana penuh kehangatan itu, Bupati Samaun menyampaikan apresiasinya atas inisiatif Dewan Adat Mbaham Matta yang mengambil langkah nyata untuk mendorong percepatan pembangunan Masjid Nurul Islam—sebuah rumah ibadah di Kampung Werpigan yang hingga kini belum rampung pengerjaannya.
“Ketua Dewan Adat bersama teman-teman memiliki pikiran yang sangat bagus, dengan niat yang ikhlas dan tulus, untuk mendorong penyelesaian masjid Nurul Islam di Werpigan. Pemerintah daerah melihat langkah ini sebagai sesuatu yang harus didukung oleh semua elemen masyarakat,” ujar Bupati.
Rencana kegiatan solidaritas itu akan digelar pada Rabu, 10 Desember 2025, bertempat di RTH Maruf Amin, sebuah momentum yang diharapkan menjadi gerakan kolektif masyarakat Fakfak untuk memperkuat nilai persaudaraan lintas agama dan budaya.
Nada Kultural yang Menggetarkan
Ketua Dewan Adat Mbaham Matta, Apnel Hegemur, menyambut baik apresiasi pemerintah. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa kegiatan solidaritas ini lahir dari refleksi panjang lembaga adat melihat dinamika pembangunan rumah ibadah selama dua tahun terakhir.
“Sejumlah event keagamaan pada 2024–2025 didominasi saudara-saudara Nasrani. Maka kami memandang penting menjaga keseimbangan serta harmoni, sesuai kultur Mbaham Matta: Falsafah Satu Tunggu Tiga Batu. Kearifan ini menuntun kami untuk mendorong penggalangan dana yang kami sebut Masjid Magi,” kata Apnel.
Dewan Adat Mbaham Matta ingin menunjukkan bahwa solidaritas masyarakat Fakfak memiliki akar yang kuat: kebersamaan, tenggang rasa, dan penghormatan pada perbedaan keyakinan.
Apnel juga menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga besar yang tengah bersiap memasuki perayaan Natal 2025.
“Ini wujud penghormatan, karena kami di Fakfak hidup dalam payung besar satu tungku tiga batu,” ujarnya.
Harapan Penguat Kebersamaan
Di akhir pertemuan, Bupati Fakfak kembali menegaskan dukungan pemerintah terhadap inisiatif ini.
“Atas nama pemerintah daerah, saya mengapresiasi setinggi-tingginya langkah Dewan Adat dan panitia. Kita berdoa semoga kegiatan berjalan baik dan pembangunan Masjid Nurul Islam bisa segera terselesaikan,” ucapnya.
Atmosfer sore itu menandai bukan sekadar persiapan sebuah acara, tetapi sebuah pergerakan sosial yang menyentuh sisi terdalam identitas Fakfak: negeri dengan keberagaman yang terjaga oleh kearifan adat.
Kegiatan solidaritas 10 Desember 2025 nanti diharapkan menjadi panggilan persaudaraan bagi 37 etnis paguyuban dan 7 golongan keyakinan yang hidup berdampingan di tanah Mbaham Matta.
Sebuah ajakan untuk melangkah bersama—membangun rumah ibadah, namun lebih dari itu, merawat harmoni yang menjadi napas Fakfak selama berabad-abad.








Komentar