Fakfak, Kabarsulsel-Indonesia.com | Puluhan pemain muda berjejal di Stadion 16 November Fakfak. Mata mereka menyimpan harapan yang sama: lolos seleksi, mengenakan kostum Persifa, dan membawa nama daerah ke pentas Liga 4 yang akan digelar di Manokwari, Maret 2026.
Seleksi ini bukan sekadar agenda rutin. Ia menjadi simbol tekad baru bagi sepak bola Kabupaten Fakfak yang selama ini dinilai berjalan di tempat. Rata-rata peserta berusia 20 hingga 23 tahun. Sebagian besar bahkan berasal dari kelompok usia kelahiran 2007 dan 2008—generasi yang diharapkan menjadi fondasi masa depan tim.
Koordinator Penyelenggara Tim Seleksi, Arnold Bame, mengatakan proses penjaringan diikuti sekitar tujuh pemain senior. Namun kepastian jadwal pertandingan masih menunggu koordinasi teknis.
“Sebenarnya ini hasil kesepakatan bersama. Kalau tidak ikut, kami harus menanggung sanksi. Pilihannya jelas: bayar biaya pendaftaran 25 juta rupiah atau denda sampai 300 juta rupiah. Karena itu kami putuskan tetap berpartisipasi,” ujar Arnold.
Keputusan tersebut bukan semata soal angka. Menurut Arnold, partisipasi dalam Liga 4 menjadi cara menjaga keberlangsungan pembinaan. Ia ingin pemain muda tetap memiliki ruang berlatih dan berkembang, meski tim sempat absen dua hingga tiga kali dari kompetisi.
Jumlah pendaftar membludak. Dari puluhan peserta, hanya sekitar 20 hingga 21 pemain yang akan masuk tim inti. “Tidak ada slot khusus. Semua harus lewat seleksi objektif sesuai kebutuhan tim,” kata Arnold, pelatih berlisensi C-AFC.
Seleksi direncanakan berlangsung tiga hari. Namun sejak tahap awal, panitia menemukan sejumlah peserta yang belum lengkap secara administrasi maupun kesiapan fisik. Karena itu, penyaringan akan dilakukan bertahap, dari tahap awal hingga seleksi akhir.
Di balik proses teknis itu, terselip agenda yang lebih besar. Ketua Aliansi Pemerhati Sepak Bola Kabupaten Fakfak, Umar Rengen, menyebut seleksi ini sebagai momentum perubahan.
“Suka atau tidak suka, ini saatnya sepak bola Fakfak bangkit. Selama ini kita seperti berjalan di tempat,” ujarnya.
Aliansi membuka pintu bagi pemain dari seluruh distrik tanpa batasan wilayah. Yang dicari bukan asal-usul, melainkan semangat dan kemampuan.
Menurut Umar, target utama seleksi adalah pemain muda yang akan dibina untuk menembus level provinsi hingga nasional. Ia berharap dari proses beberapa hari ke depan, muncul talenta yang benar-benar layak memperkuat tim dan mengharumkan nama daerah.
Ia juga meminta dukungan pemerintah daerah, KONI, serta seluruh pemangku kepentingan olahraga di Fakfak. Tanpa sinergi, upaya pembinaan dinilai akan kembali tersendat.
“Ini bukan sekadar seleksi. Ini upaya membawa nama baik Fakfak di dunia olahraga,” kata Umar.
Bagi para pemain yang berlari di atas rumput Stadion 16 November, seleksi ini mungkin hanya tiga hari. Namun bagi sepak bola Fakfak, inilah langkah kecil yang diharapkan menjadi awal kebangkitan panjang.








Komentar