Perkuat Standar, Jaga Reputasi: Fakfak Matangkan SNI Pala Tomandin demi Daya Saing Global

Fakfak, Kabarsulsel-Indonesia.com | Pemerintah Kabupaten Fakfak kian serius menjaga marwah pala sebagai komoditas unggulan yang telah lama menghidupi masyarakat pesisir Tanah Papua. Melalui Dinas Perkebunan, langkah strategis ditempuh: menyosialisasikan sekaligus menyusun penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk Pala Tomandin Fakfak sebuah ikhtiar memperkuat mutu, meneguhkan identitas, dan memperluas daya saing di pasar nasional maupun internasional.

Kegiatan yang digelar di kantor Dinas Perkebunan Fakfak itu dibuka oleh Kepala Dinas Perkebunan, Widhi Asmoro Jati, ST, MT, mewakili Bupati Fakfak. Sebanyak 45 peserta hadir mulai dari petani pekebun pala, kelompok tani, pengumpul dan pengepul, hingga perwakilan masyarakat perlindungan indikasi geografis Pala Tomandin Fakfak. Mereka adalah simpul-simpul penting dalam rantai produksi dan perdagangan pala di daerah tersebut.

Fakfak sejak lama dikenal sebagai penghasil pala lonjong dengan karakter berbeda dibanding daerah lain di Indonesia. Aromanya khas, bentuk bijinya relatif utuh dan proporsional, serta kandungan minyak atsirinya tinggi. Keunggulan komparatif sekaligus kompetitif inilah yang kemudian dipertegas melalui branding Pala Tomandin Fakfak identitas yang tak sekadar nama, tetapi reputasi yang harus dijaga.

“Penerapan SNI menjadi langkah penting untuk memastikan kualitas pala Fakfak lebih terjamin dan memiliki klasifikasi mutu yang jelas,” ujar Widhi saat membuka acara.

Ia menegaskan, standar mutu bukan sekadar formalitas administrasi, melainkan fondasi kepercayaan pasar.

Dalam forum itu, peserta tidak hanya menerima paparan materi. Mereka juga menyusun draf pedoman pengolahan Pala Tomandin Fakfak sebagai acuan teknis pascapanen mulai dari cara memetik buah, proses pemecahan (curah), pemisahan biji dan fuli, teknik pengeringan, hingga sistem pengiriman dan pengasapan yang lebih adaptif terhadap tuntutan pasar mutakhir. Paradigma lama yang kurang presisi perlahan diarahkan menuju praktik yang lebih terstandar dan berorientasi mutu.

Momentum sosialisasi ini juga dinilai krusial menjelang musim panen Pala Timur dan Pala Barat 2026, yang mengikuti kalender musim panen khas Fakfak. Pada periode itu, produksi biasanya meningkat signifikan. Tanpa kedisiplinan dalam panen dan penanganan pascapanen, lonjakan produksi justru berpotensi menurunkan kualitas.

Salah satu persoalan yang masih kerap muncul adalah pemanenan buah sebelum matang sempurna. Praktik ini berdampak langsung pada kadar minyak atsiri dan mutu biji pala. Widhi mengingatkan agar petani memanen sesuai kalender musim yang telah lama dikenal masyarakat.

Ia juga menyoroti praktik jual-beli pala yang dipetik sebelum waktunya.

“Membeli atau menjual pala sebelum matang bukan hanya merusak kualitas, tetapi juga berpotensi merugikan pemilik kebun. Kita tidak boleh tergiur praktik seperti itu,” ujarnya tegas.

Menurut dia, disiplin terhadap waktu panen dan standar pascapanen termasuk pengeringan, sortasi, serta penyimpanan menjadi kunci menjaga reputasi pala Fakfak. Jika dipanen tepat waktu dan ditangani dengan benar, aroma tetap terjaga, kandungan minyak atsiri optimal, dan harga jual pun lebih baik. Dampaknya, pendapatan petani meningkat dan kepastian usaha bagi pelaku niaga kian kuat.

Dalam kesempatan itu, narasumber dari PT Papua Global Spices, Hans Sahupala, membagikan metode serta testimoni praktik terbaik pengolahan pala. Ia menekankan pentingnya konsistensi terhadap standar operasional prosedur (SOP), dari kebun hingga pemasaran.

“Dengan pengolahan yang benar dan terstandar, harga akan mengikuti kualitas,” ujarnya.

Upaya ini menjadi bagian dari komitmen bersama untuk menjaga keberlanjutan pala sebagai sumber ekonomi masyarakat Fakfak. Pala tak lagi sekadar jejak sejarah perdagangan rempah, tetapi diharapkan menjadi kekuatan ekonomi modern yang menyejahterakan.

Di akhir kegiatan, para peserta menyepakati prosedur pengolahan Pala Tomandin sebagai panduan praktis bagi petani, pengumpul, dan pelaku usaha. Kesepakatan itu mencakup tata cara panen, pemisahan, pengeringan, penyimpanan, hingga komitmen harga yang layak dan adil bagi pekebun.

Dari ruang pertemuan sederhana di Fakfak itu, satu pesan mengemuka: menjaga mutu adalah menjaga masa depan. Dan bagi masyarakat Fakfak, pala bukan hanya komoditas ia adalah identitas yang kini tengah diperkuat dengan standar dan disiplin.

Komentar