Tanimbar, Kabarsulsel-Indonesia.com; Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Pemuda Pancasila menggelar Musyawara Cabang ke-II di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, dibawa sorotan Tema: “Indonesia Tanah Air Beta, Beta Pancasila, Pancasila Itu Beta”. Muscab Pemuda Pancasila dilaksanakan di hotel Incla Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Selasa, (22/08/2023).
Kegiatan Musyawara Tersebut dihadiri oleh Seluruh Pengurus MPC Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Dalam Muscab itu, dilakukan pembahasan program terhadap berbagai persoalan sosial yang terjadi di Tanimbar, untuk direkomendasikan kepada Pemerintah Daerah agar dapat menjadi perhatian serius.
Kepada tim media Agustinus Rahanwarat mengatakan, Kegiatan Musyawara cabang ke-II Pemuda Pancasila yang dilaksanakan itu, sekaligus dapat memberikan gelar Anggota Kehormatan kepada Ibu Pratiwi Widia Murat yang diundang untuk hadir dalam Muscab itu namun dirinya berhalangan dan tidak sempat hadir dalam kegiatan tersebut.
“Beliau akan tetap dianugerahi gelar anggota Kehormatan Pemuda Pancasila Kabupaten Kepulauan Tanimbar,” Ucap Rahanwarat.
Lanjut Rahanwarat, Sejatihnya kegiatan tadi dibuka oleh Penjabat Bupati Kabupaten Kepulauan Tanimbar, namun karena beliau berhalangan maka kegiatan itu dibuka oleh Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Josef James Kelwulan. Kebetulan Ketua DPRD Deny Darling Refualu juga ikut hadir dalam kegiatan Muscab maka Pemukulan Tifa sebagai tanda dibukanya kegiatan Musyawara Pemuda Pancasila yang ke-II itu diberikan kepada beliau.
“Sebagai sesepuh pemuda Pancasila Kabupaten Kepulauan Tanimbar saya sangat mengapresiasi kegiatan Musyawara Cabang II yang dilaksanakan oleh Ricky Jauwerissa selaku Karateker Pemuda Pancasila, Kegiatan ini sudah dilakukan sebagaimana yang diamanatkan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi kemasyarakatan Pemuda Pancasila,”jelasnya.
Rahanwarat menambahkan, Sejak Muscab pertama dan kegiatan ini jalan, memang kita berhadapan dengan pemerintah daerah yang saat itu dipolitisir sehingga organisasi Pemuda Pancasila hampir tidak eksis. Namun, kami tetap jalan dengan kegiatan – kegiatan dan ini pun cukup lama.
“Sebagai Ketua Majelis Pimpinan Cabang, 12 tahun lamanya, saya merasakan suka duka, pahitnya luar biasa tetapi ada tangan-tangan yang tidak kelihatan yang selalu memberikan suport dan dukungan,”ungkapnya.
Dikatakan, Ketika Ricky Jauwerissa diberikan mandat sebagai karateker, saya sangat senang dan merasa bangga karena kedepan ini Pemuda Pancasila jatuh ke tangan figur yang tepat, punya kemampuan, kapabilitas dan loyalitas.
“Pidato dari Ricky Jauwerissa, sebagai Karateker Pemuda Pancasila tadi, menjadi kebanggaan bagi kami, karena Organisasi ini harus menjadi rumah untuk menghilangkan politik identitas-identitas. Teristimewa menjelang momentum politik pada tahun-tahun mendatang,”ungkapnya.
Secara terpisah, dalam pembahasan program dan kegiatan Musyawara Pemuda Pancasila ke-II itu, Ricky Jauwerissa sempat merekomendasikan beberapa program untuk nantinya diperjuangkan oleh Pemuda Pancasila di Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Dirinya menentang adanya perda soal retribusi daerah terhadap masyarakat kecil di Tanimbar, selama pemda tidak mampu menarik retribusi dari HPH (Hak pengolahan hutan) sebesar 30% untuk daerah, maka pemda tidak bisa menarik retribusi dari masyarakat Kepulauan Tanimbar,
Mempersiapkan Sumberdaya Manusia dalam menghadapi era blok masela, karena selama ini upaya untuk meningkatkan sumberdaya manusia dalam menghadapi blok masela sangat minim.
APBD Kepulauan Tanimbar tidak pernah disisikan kebutuhan untuk masyarakat dalam memperoleh lisensi untuk kebutuhan tenaga kerja di Inpex.
Terkait dengan kebutuhan pendidikan soal kekurangan tenaga guru, dirinya pun mendukung UNLESA (Universitas Lelemuku Saumlaki) sebagai salah satu Perguruan Tinggi di Tanimbar, yang membuka program studi guru untuk menjawab kekurangan tenaga pendidik di Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Dibidang kesehatan, Tanimbar mengalami kekurangan tenaga dokter spesialis, dan tenaga perawat. Bahkan, Rumahsakit Fatima hari ini terancam ditutup karena tidak ada perhatian pemda, perlu adanya akreditasi untuk Rumahsakit Fatima agar dapat difungsikan kembali.
Adanya perhatian khusus terhadap Prodi kebidanan, soal janji pemerintah daerah hibakan tanah untuk kebutuhan pembangunan Kampus, dalam menunjang kebutuhan pendidikan tinggi khususnya dibidang kesehatan.
Menolak hadirnya nelayan andon di Kabupaten Kepulauan Tanimbar yang telah melakukan eksploitasi secara berlebihan, sejak tahun 2012 sampai pada tahun 2023. Eksplotasi telur ikan terbang yang di ambil oleh nelayan andon di perairan Seira sebesar 7.296 ton, ini pun akan mengancam populasi ikan terbang, ikan tuna dan petani rumput laut di Seira gagal panen. Bahkan, telur ikan itu dipasrkan keluar daerah mencapai trilyunan rupiah, sementara nelayan lokal di Tanimbar tidak mendapat manfaat. Tutupnya.
Komentar