SAUMLAKI, Kabarsulsel-indonesia.com – Ditengah kesulitan ekonomi yang mengancam, Jems Masela, sala satu tokoh muda Nirunmas, asal Desa Arma ini, angkat bicara berkaitan dengan ditugaskannya Daniel Indey, sebagai Panjabat Bupat, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, oleh Mendagri, atas usulan Gubernur Propinsi Maluku. Harapannya dapat mengimplementasikan tujuh (7) program yang kita tau saat dirinya menjabat. Disinggungnya, Penjabat Bupati Kabupaten Kepulauan Tanimbar, yang telah beberapa bulan menjalankan tugas di Bumi duan Lolat, apa yang dibuat untuk Tanimbar. Yang ada hanya mondar-mandir, pulang pergi keluar kota, mungkin inilah sala satu keberhasilannya, kata Masela. Timbul lagi pertanyaan uang dari mana ? sementara kita tau bersama daerah lagi mengalami masalah devisit yang merongrong masalah ekonomi rakyat, bahkan para ASN di lingkup Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Lanjut Jems, tidak peduli bagi Raja ada, atau tidak, harus tetap keluar daerah, pastinya ini demi Tanimbar, tidak terpikirkan keluh kesah rakyat.
Jems menyoroti keberadaan Penjabat Bupati Kabupaten Kepulauan Tanimbar, selama melaksanakan tugas, dinilai dan menduga hanya suatu kepentingan dan formalitas saja, sehingga tidak fokus kepada tujuh (7), programnya, namun lebih mengutamakan kepentingan pribadi yang dititipkan oleh oknum Politisi. Terlihat jelas, ditengah badai miskin ekstrem yang melanda, dimana sesungguhnya Penjabat harus berdiri dengan rakyatnya melawan badai ini, namun sia-sia, omong kosong, dan diduga ikut juga bermain didalam, tanpa terpikir mana yang harus didahulukan.
Sorotan Jems, berkaitan dengan miskin ekstrem, benar dirasakan hampir seantero masyarakat di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, mau tidak mau harus dirasakan, dinikmati, endingnya. Dengan menarik napas panjang, mendesah kapan ini berakhir. Sementara dirasakan Penjabat Bupati Daniel Indey, santai-santai saja, setelah sukses utang pihak ke- tiga diketuk dan harus dibayarkan, luar biasa kan ? Ungkapnya.
Telah selesai dan sahnya tugas untuk UP3, mungkin di rasakan Penjabat Bupati, UP3, adalah sala satu dari tujuh (7) programnya, sehingga harus menjadi prioritas dia. Namun hal ini juga menjadi dugaan kuat, kata Jems, disenyalir pembayaran utang pihak ke-tiga adalah kental kepentingan Politik, yang harus diselesaikan Penjabat, kalau tidak, harus dikatakan, jika tidak di eksekusi, usai masa menjadi sebagai Penjabat Bupati, kursi dimna tempat duduk awal di Propinsi akan diisi orang laen, benarkah, dugaan ini menjadi kuat, dengan tidak satupun dari tujuh (7), program itu terlaksana dengan sukses ?
Tak hanya sampai disini sorotan Tokoh muda Desa Arma ini, terhadap sosok yang katanya,’Cinta Tanimbar’, menurutnya, mungkin saja masi teringat dalam ingatan sebagian masyarakat di Kabupaten yang berjuluk Duan Lolat ‘ Raja mengatakan, ‘Saya Cinta Tanimbar’, bisakah ditunjukkan, cinta yang mana, kesalnya. Mengapa ? Jika Penjabat Bupati, mencintai Tanimbar, harusnya bisa dibuktikan, apa yang harus dibuktikan ? kesalnya, sambil katakan, jika dia mencintai Tanimbar, berarti adat, istiadat, budaya Tanimbar harus dijalankan sebut Masela.
Dia mengemukakan jika Daniel Indey, Penjabat Bupati Kabupaten Kepulauan Tanimbar, ini punya rasa cinta, harusnya bisa dibuktikan dengan kedatangan orang nomor satu di Republika ini. Faktanya, Maluku Barat Daya, diberikan waktu untuk para tetua adat, menjamu Presiden Republik Indonesia Ir Joko Widodo, dalam upacara adat, ini bukti begitu cintanya orang nomor satu di Kabupaten Maluku Barat Daya, itu kepada masyarakat dan adat-istiadat, budaya yang mereka lestarikan hingga kini. Kabupaten Kepulauan Tanimbar, dipimpin oleh seorang yang katanya ‘Cinta Tanimbar’, mengabaikan adat istiadat, budaya orang Tanimbar, saat kunjungan Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo, inikah bukti cintanya sang Raja ? herannya, hanya leluhur, alam, yang tau, ada apa ini.
Dengan tujuh (7) program, kedengarannya sangat bagus, jika pelaksanaannya terbukti. Namun yang saya katakan tadi, bibir bisa mengatakannya, namun implementasinya nol. Saya juga pastikan, jika tujuh program ditanyakan kepadanya ‘Colaps Keuangan Daerah’, jawaban ini pasti. Jika benar ini Colaps, lalu bagaimana dengan 34 miliard ? Benar memang, teringat ada syair lagu ‘Dunia ini panggung sandiwara’, silakan dilanjutkan, sindirnya.
Bukan menjadi rahasia hari ini, ketija semua terhimpit masalah perputaran ekonomi yang sangat dirasakan. Sambil memberikan contoh, masyarakat sulit untuk melihat, mengurusi, membiayai anak-anak mereka yang lagi studi, para ASN, yang hanya berharap gaji tiap bulan, sementara harus membayar kredit di Bank, tidak tau tunjangan laen dimna, luar biasa cinta yang perna terhumbar lewat mulut sang Raja, lebih membuat penyakit hati yang dirasakan sebagian masyarakat Tanimbar, karena Cintamu, wahai Raja.
Tidak lalu sampai disini, dia juga menyentil setelah menginjakan kaki di Bumi Duan Lolat, dengan wajah yang murah senyum sedapatnya bisa melakukan terobosan untuk melawan kesulitan yang dihadapi, namun dengan senyum yang ada padanya, dugaan Masela, lebih memilih fokus kepada kepentingan Politik individu. Lain halnya lagi, setelah menonaktifkan Kepala Bagian Keuangan Kabupaten Kepulauan Tanimbar, kemudian jabatan tersebut harusnya dipercayakan kepada pejabat laen, seperti Sekretaris Daerah, para Asisten yang ada, faktanya, dia sendiri yang mengambil alih jabatan tersebut, ini tidak bisa terbantahkan.
Gebrakan yang dilakukan penjabat, dalam melakukan evaluasi internal pada setiap SKPD, yang menurutnya sangat berkepentingan dan berkaitan dengan segala macam kebijakan mantan Bupati Kabupaten Kepulauan Tanimbar, menjadi sasaran, guna terungkap, mengapa daerah bisa mengalami devisit yang drastis. Hal-hal ini, menurut Jems, boleh dan wajib dilakukan, namun tidak mengesampingkan tujuh program, yang harus diprioritaskan juga, bukan hanya seriusi UP3, keluhnya.
Komentar