Fakfak, Kabarsulsel-Indonesia.com | Suasana lapangan terasa lebih hidup dari biasanya. Puluhan pemain muda berlarian, berebut bola, menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Di antara mereka, ada Sukri Iha, pemuda asal Kampung Tanama, yang tak menyembunyikan rasa harapannya.
Bagi Sukri, kesempatan mengikuti seleksi pemain sepak bola batas usia 23 tahun bukan sekadar agenda rutin. Ia menganggapnya sebagai pintu menuju mimpi yang lebih besar: mengenakan seragam Persifa Muda dan tampil di Liga IV yang direncanakan berlangsung di Manokwari.
“Saya senang sekali bisa ikut seleksi ini. Harapannya semoga bisa terpilih dan memperkuat Persifa Muda,” ujarnya singkat, dengan napas yang masih terengah setelah sesi latihan.
Seleksi yang digelar Aliansi Peduli Sepak Bola itu menarik perhatian berbagai pihak, termasuk Ketua Harian KONI, Hermanto Hubrouw. Ia hadir langsung di lapangan, mengamati jalannya proses seleksi para pemain muda yang datang dari berbagai kampung.
Menurut Hermanto, olahraga—terutama sepak bola—bukan sekadar pertandingan. Ia menyebutnya sebagai bagian dari harga diri generasi muda daerah. Dari lapangan seperti inilah, kata dia, nama Kabupaten Fakfak bisa diangkat ke panggung yang lebih luas.
“Olahraga adalah harga diri generasi muda. Dari sini mereka bisa tampil membawa nama daerah,” ujarnya.
Mantan atlet tinju itu juga menekankan pentingnya proses seleksi yang objektif dan terarah. Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada tahap pencarian pemain, melainkan berlanjut pada pembinaan yang serius dan berkelanjutan.
Menurut dia, seleksi seperti ini adalah langkah awal untuk menemukan bibit-bibit potensial. Para pemain muda itu, jika dibina secara kolektif dan konsisten, bukan hanya bisa mengharumkan nama Fakfak, tetapi juga berpeluang tampil di tingkat provinsi hingga nasional.
“Harapannya, dari seleksi ini lahir atlet-atlet yang benar-benar dipersiapkan. Dibina dengan baik, diarahkan secara kolektif, sehingga bisa bersinar dan membawa nama Fakfak, bahkan provinsi dan negara,” kata Hermanto.
Di tengah terik matahari dan sorak-sorai rekan-rekannya, Sukri kembali mengambil posisi di lapangan. Seleksi masih berlangsung, persaingan masih panjang. Namun bagi pemuda dari Tanama itu, langkah pertama sudah ia ambil: berani datang, berani mencoba, dan berani bermimpi.








Komentar