Fakfak, Kabarsulsel-Indonesia.com | Pemerintah Kabupaten Fakfak kian serius menata masa depan komoditas unggulannya. Melalui Dinas Perkebunan Fakfak, pemerintah daerah mengonsolidasikan kekuatan dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kabupaten Fakfak guna mempercepat penguatan sumber daya manusia (SDM) pekebun sekaligus mendorong hilirisasi pala secara berkelanjutan.
Kolaborasi lintas kelembagaan ini menjadi bagian penting dari penguatan Program Strategis Pala Unggul dan Distrik Berdaya, yang dirancang melalui pendekatan Satu Kampung Satu Komoditas—sebuah strategi pembangunan ekonomi lokal berbasis potensi riil kampung dan distrik.
Fokus utama kerja sama ini diarahkan pada peningkatan kapasitas pekebun, tidak hanya pada aspek teknis budidaya, tetapi juga pada penguatan manajerial dan kewirausahaan. Tujuannya jelas: mendorong transformasi pekebun dari sekadar produsen bahan baku menjadi pelaku usaha perkebunan yang produktif, berdaya saing, dan berorientasi nilai tambah.
Melalui peran aktif penyuluh pertanian, pekebun akan didampingi untuk memahami good agricultural practices, pengelolaan pascapanen, standarisasi mutu, hingga pengolahan hasil perkebunan. Edukasi berkelanjutan ini dipandang sebagai fondasi penting dalam memperkuat hilirisasi pala Fakfak—komoditas strategis daerah yang kini mulai diarahkan masuk dalam skema pengembangan investasi nasional.
Kepala Dinas Perkebunan Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST, MT, dalam audiensi bersama BPP, mengungkapkan sejumlah tantangan struktural yang dihadapi sektor perkebunan daerah. Salah satunya adalah keterbatasan sumber daya pendamping teknis yang berdampak pada belum optimalnya pendampingan berkelanjutan terhadap pekebun.
“Kami dihadapkan pada target percepatan program strategis daerah yang sejalan dengan visi Fakfak Membara (Membangun Bersama Rakyat), sementara kapasitas pendampingan teknis kami masih terbatas. Di sinilah kolaborasi dengan BPP menjadi sangat krusial,” ujar Widhi.

Ia menegaskan, terdapat empat prioritas utama pembangunan sektor perkebunan Fakfak, yakni menjaga konsistensi program dengan visi pembangunan daerah, mempercepat hilirisasi pala, meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), serta mendorong investasi perkebunan yang terarah dan berkelanjutan.
Menurutnya, sinergi dengan BPP akan menjadi kunci dalam memperkuat kapasitas SDM pekebun—mulai dari budidaya, pascapanen, hingga pengembangan usaha—sehingga program strategis tidak berhenti pada tataran dokumen, tetapi benar-benar berdampak di tingkat kampung.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Penyuluh Pertanian Kabupaten Fakfak, Mambry Rumbewas, S.ST, menjelaskan bahwa saat ini BPP merupakan lembaga penyuluhan yang berdiri sendiri dan berada langsung di bawah kewenangan pusat. Hal ini sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2025 tentang pendayagunaan penyuluh pertanian dalam rangka percepatan swasembada pangan.
“Penyuluh kini bersifat polivalen, memiliki kemampuan lintas komoditas dan lintas subsektor. Tidak lagi dibatasi oleh sekat pertanian, perkebunan, atau peternakan,” jelas Mambry.
Dengan karakter tersebut, BPP siap memberikan dukungan dalam penguatan hilirisasi pala Fakfak melalui tujuh peran utama, mulai dari edukasi pekebun, pengembangan rantai pasok, pendampingan teknologi olahan, pencarian inovasi produk, sosialisasi regulasi dan standar, hingga monitoring, evaluasi, dan advokasi kebijakan.
Sebagai penutup pertemuan, Dinas Perkebunan Fakfak dan BPP sepakat untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi lintas program. Kerja sama ini diarahkan untuk menjawab keterbatasan pendampingan teknis di lapangan sekaligus mengoptimalkan peran strategis penyuluh BPP sebagai ujung tombak perubahan di tingkat distrik dan kampung.
Dengan kolaborasi ini, pendekatan Satu Kampung Satu Komoditas diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan memperkuat ekonomi kampung berbasis potensi lokal—sekaligus menempatkan pala Fakfak sebagai komoditas unggulan yang berdaulat dari hulu hingga hilir.







Komentar