Konflik Pemuda di Tual, Rahantan Minta Pembinaan Generasi Muda Diperkuat

Malra,Kabarsulsel-Indonesia.com. Konflik antar pemuda yang terjadi di wilayah Fiditan, Kota Tual, beberapa waktu lalu menjadi perhatian serius berbagai elemen masyarakat.

Peristiwa tersebut tidak hanya menimbulkan keresahan, tetapi juga menjadi refleksi penting bagi semua pihak tentang urgensi pembinaan dan penguatan karakter generasi muda di daerah.

Hal ini di sampaikan Koordinator Daerah Badan Eksekutif Mahasiswa Daerah Maluku (BEM Nus ) menilai bahwa konflik yang melibatkan pemuda harus dilihat secara komprehensif, tidak semata sebagai persoalan insidental.

Menurut Rahantan diperlukan langkah pembinaan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan agar potensi konflik serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.

Dalam keterangannya, perwakilan BEM Nusantara Maluku menyampaikan bahwa generasi muda merupakan aset daerah yang harus dijaga dan diarahkan secara positif.

Minimnya ruang ekspresi, lemahnya penguatan nilai persaudaraan, serta kurangnya wadah kegiatan produktif dinilai dapat menjadi faktor yang memicu gesekan sosial di tingkat akar rumput.

BEM Nusantara Maluku mengapresiasi langkah cepat aparat keamanan dan pemerintah daerah, Pimpinan dan DPRD Kota Tual dalam Membangun Koordinasi meredam situasi sehingga tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas.

Sinergitas antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan unsur legislatif dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

Namun demikian, BEM Nusantara Maluku menegaskan bahwa rekonsiliasi pasca-konflik harus dibarengi dengan program pembinaan jangka panjang.

Pendekatan dialogis, edukasi kebangsaan, penguatan nilai toleransi, serta pemberdayaan pemuda melalui kegiatan sosial, olahraga, dan kewirausahaan perlu diperkuat agar generasi muda memiliki ruang aktualisasi yang positif.

Menurut BEM Nusantara Maluku, pembinaan tidak hanya menjadi tanggung jawab aparat keamanan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif pemerintah daerah, tokoh masyarakat, tokoh agama, lembaga pendidikan, serta keluarga sebagai lingkungan pertama pembentukan karakter.

Kolaborasi lintas sektor inilah yang diharapkan mampu menyentuh akar persoalan dan mencegah potensi konflik menjadi “bom waktu” di kemudian hari.

BEM Nusantara Maluku juga mengajak seluruh pemuda di Kota Tual untuk menjadikan peristiwa ini sebagai pembelajaran bersama.

Semangat hidup orang basudara yang menjadi kearifan lokal masyarakat Maluku harus terus dijaga dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai representasi mahasiswa, BEM Nusantara Maluku menyatakan komitmennya untuk terus berperan aktif dalam mendorong dialog, edukasi, dan gerakan sosial yang memperkuat persatuan serta stabilitas daerah.

Harapannya, Kota Tual dapat terus tumbuh sebagai daerah yang aman, harmonis, dan menjadi ruang yang sehat bagi perkembangan generasi muda yang berintegritas dan berdaya saing.

(Elang Kei)

Komentar