Kapten CPM Prasetyo Budhi Setiawan Tegaskan Disiplin Prajurit dalam Sosialisasi Gaktib dan Yustisi Korem 182/Jazira Onim

Fakfak, Kabarsulsel-Indonesia.com | Pagi itu, di Aula GSG Makorem 182/Jazira Onim, Kampung Kiat, Distrik Pariwari, tak ada gegap gempita. Yang terdengar hanya suara langkah sepatu lars dan deru kipas angin yang berputar pelan. Namun dari ruangan itulah, sebuah pesan penting tentang disiplin dan kehormatan kembali ditegaskan.

Di hadapan para prajurit, Kapten CPM Prasetyo Budhi Setiawan, S.Psi., Dansubdenpom XVIII/1-2 CPM, berbicara dengan nada tenang namun tegas. Sosialisasi Operasi Penegakan Ketertiban (Gaktib) dan Operasi Yustisi Tahun Anggaran 2026 yang digelar oleh Korem 182/Jazira Onim bukan sekadar agenda rutin tahunan. Ia adalah pengingat bahwa seragam yang dikenakan setiap hari menyimpan konsekuensi moral yang tak ringan.

“Disiplin bukan hanya aturan tertulis. Ia adalah komitmen batin,” ujar Prasetyo, menggarisbawahi bahwa ketertiban prajurit tidak boleh berhenti pada tataran formalitas.

Kapten CPM Prasetyo Budhi Setiawan, S.Psi., Dansubdenpom XVIII/1-2 CPM saat menyampaikan materi sosialisasi kepada Prajurit Korem 182/JO | Foto Istimewah KSI

Operasi Gaktib, ia menjelaskan, menyasar hal-hal mendasar namun krusial: kelengkapan administrasi perorangan, surat-surat kendaraan bermotor, penggunaan atribut dan seragam dinas, hingga kepatuhan berlalu lintas. Bagi sebagian orang, itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi Polisi Militer, dari detail-detail itulah profesionalisme diuji.

Sementara Operasi Yustisi bergerak lebih jauh. Penegakan hukum dilakukan secara tegas, profesional, dan proporsional untuk mencegah serta meminimalkan pelanggaran pidana yang dapat merugikan diri sendiri maupun mencoreng nama baik satuan. Dalam konteks ini, hukum tidak hadir sebagai ancaman, melainkan sebagai pagar yang menjaga marwah.

Prasetyo mengingatkan, tantangan prajurit hari ini bukan hanya di medan tugas. Era keterbukaan informasi membuat setiap tindakan dapat dengan mudah menjadi sorotan publik. Sebuah pelanggaran kecil bisa menjelma menjadi krisis kepercayaan. Karena itu, integritas harus menjadi benteng pertama.

Ia tak banyak menggunakan retorika. Namun pesannya jelas: prajurit TNI AD, khususnya di wilayah Korem 182/Jazira Onim, harus menjadi teladan—baik dalam kedinasan maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Kehormatan pribadi, keluarga, dan satuan bertumpu pada sikap sehari-hari yang konsisten pada aturan.

Sosialisasi itu pun menjadi semacam cermin. Di sana para prajurit diajak menilai kembali dirinya sendiri: apakah disiplin sudah menjadi kebutuhan, atau sekadar kewajiban? Apakah kepatuhan lahir dari kesadaran, atau hanya karena pengawasan?

Bagi Korem 182/Jazira Onim, upaya ini bukan sekadar menjaga ketertiban internal. Lebih dari itu, ia adalah investasi kepercayaan publik. Sebab tentara yang disiplin bukan hanya kuat secara fisik, tetapi juga kokoh secara moral.

Dari Fakfak, pesan itu mengalir pelan namun pasti: kehormatan tidak dibangun oleh slogan. Ia dirawat lewat ketaatan yang konsisten, ditegakkan melalui keteladanan, dan dijaga oleh keberanian untuk berkata benar pada diri sendiri. Dan di sanalah, peran Polisi Militer menemukan maknanya—bukan sekadar menindak, tetapi membimbing agar setiap prajurit tetap berada di jalur kehormatan.

Komentar