Fakfak, Kabarsulsel-Indonesia.com | Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak menggelar Pelatihan Grafting Pala selama dua hari, Senin sampai Selasa, 10 sampai 11 November 2025, di Ruang Rapat Tomandin. Kegiatan ini menjadi bagian penting dari penguatan Program Pala Unggul Fakfak yang kini terus dikejar pemerintah daerah.
Sebanyak 20 perwakilan petani bersama pendamping ASN dari Dinas Perkebunan mengikuti pelatihan ini. Mereka belajar langsung dari dua narasumber utama.
Pertama, Jondri dari Balai Besar Ambon. Kedua, Siswoyo, penangkar profesional sekaligus penyuluh tanaman perkebunan dari Seram Bagian Barat. Keduanya dikenal sebagai praktisi yang fasih memadukan teori dan keterampilan lapangan.
Dalam sesi paparan, para narasumber menjelaskan bahwa grafting atau sambung pucuk merupakan satu-satunya teknik rekayasa yang mampu menjamin pohon pala cepat dan pasti berbuah.
Sifat unggul dari pohon induk betina dapat diturunkan langsung. Tanaman hasil grafting juga cenderung lebih pendek dan kompak sehingga mudah dirawat dan dipanen.

Cara ini sangat cocok untuk pelestarian varietas lokal, karena tidak bergantung pada benih yang sering menghasilkan keturunan dengan mutu tak menentu.
Peserta pelatihan tidak hanya belajar menyambungkan batang bawah dan batang atas. Mereka juga diperkenalkan pada pemilihan bahan tanam yang tepat, perawatan pasca-grafting, dan standar mutu pembibitan yang menjadi kunci produksi bibit unggul.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perkebunan Fakfak, Widhi Asmoro Jati, S.T., M.T menyebut kegiatan ini sejalan dengan Gerakan Tanam Kebun Fakfak atau Gertak Fakfak. Ia menjelaskan bahwa saat ini pengembangan Pala Tomandin ditempuh melalui dua jalur.
Pertama, metode generatif yang mengandalkan bibit dari biji dengan dukungan riset penanda molekuler untuk membedakan jantan dan betina.
Kedua, metode vegetatif melalui sambung pucuk yang dinilai paling efektif untuk memastikan dominasi pohon berbuah.
“Kita ingin Pala Tomandin tetap menjadi kebanggaan Fakfak dan sumber kesejahteraan bagi masyarakat. Caranya adalah mendorong penerapan teknologi budidaya yang lebih modern dan berkelanjutan,” ujar Widhi.
Pelatihan ini dipandang sebagai pilar penting dalam Program Strategis Pala Unggul Fakfak. Selain meningkatkan keterampilan teknis petani, kegiatan ini memperkuat upaya inovasi dan rekayasa teknologi budidaya pala yang berorientasi pada produktivitas dan kualitas hasil.
Secara generatif, pala dari biji memerlukan waktu lebih lama untuk berbuah dan menunjukkan keragaman genetik tinggi. Kondisi ini membuat kualitas panen tidak seragam.
Rekayasa vegetatif melalui grafting menjadi solusi. Teknik ini menggabungkan batang bawah yang kuat dengan entres dari pohon induk unggul yang sudah terbukti produktif dan tahan penyakit.
Dengan cara ini, sifat genetik unggulan dapat dipertahankan, sementara masa berbuah dapat dipangkas dari tujuh atau delapan tahun menjadi sekitar tiga sampai empat tahun.
Pelatihan di Tomandin memperkenalkan petani pada pendekatan pembibitan modern yang menjadi dasar produksi pala unggul berkelanjutan. Para peserta juga mendapatkan pemahaman baru mengenai pemilihan varietas lokal unggul, pola tanam adaptif, dan penerapan teknologi pascapanen.
Kegiatan ini menandai langkah penting dalam pembangunan ekosistem inovasi perkebunan pala Fakfak. Tomandin kini diproyeksikan sebagai lokasi model pengembangan terpadu yang menggabungkan metode generatif dan vegetatif dalam satu kawasan.







Komentar