Fakfak, Kabarsulsel-Indonesia.com | Pembangunan jaringan listrik untuk 11 kampung di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, terus dikebut meski sempat terkendala keterlambatan distribusi material utama. Pemerintah bersama PT PLN (Persero) dan kontraktor pelaksana PT Kencana Piahar menargetkan proyek tersebut rampung pada semester pertama 2026.
Pada tahap pertama, sebanyak 550 batang tiang listrik dipasang untuk melayani jaringan sepanjang 25 kilometer sirkuit (KMS). Kabel yang digelar mencapai 78 ribu meter, berikut berbagai aksesori penunjang instalasi. Pekerjaan ini difokuskan untuk menjangkau 11 mulai dari Distrik Bomberay, hingga Distrik Teluk Patipi dan Distrik Fakfak Timur.
Material didatangkan melalui jalur laut menggunakan kapal LCT Top Star GT 296 No. 7072/IIK dan dibongkar di Pelabuhan Kampung Tesha, Distrik Bomberay. Dari titik itu, distribusi dilanjutkan ke lokasi-lokasi pemasangan yang sebagian berada di wilayah dengan akses terbatas dan medan yang menantang.
Pimpinan PT Kencana Piahar, Rommy Thokiman, mengatakan pihaknya mendapat target penyelesaian pekerjaan selama satu bulan untuk setiap tahapan yang berjalan. Karena itu, perusahaan mengerahkan dua unit ekskavator mini, mesin bor tanah, serta puluhan tenaga kerja guna mempercepat proses pemasangan tiang dan penarikan kabel.
“Kami berupaya memaksimalkan seluruh sumber daya yang ada agar pekerjaan bisa selesai sesuai target,” ujar Rommy saat ditemui di lokasi bongkar muat di Kampung Tesha.
Kendati demikian, jadwal yang semula ditargetkan selesai pada Maret mengalami pergeseran akibat keterlambatan Material Distribusi Utama (MDU). Material tersebut harus melalui proses pengiriman dari pabrikan ke PLN Sorong sebelum diteruskan ke Fakfak. Rantai distribusi yang panjang, ditambah faktor cuaca dan transportasi laut, menjadi tantangan tersendiri dalam proyek infrastruktur di kawasan pesisir dan terpencil.

Tahap kedua proyek ini direncanakan menggunakan tambahan 920 batang tiang listrik yang saat ini dalam proses pengiriman. Tiang-tiang tersebut akan dipasang untuk melistriki Kampung Waremu, Wos, Tomage, Salawir, Kriabisa, dan Tunas Gain.
Selain pembangunan jaringan utama, PLN juga telah melakukan survei terhadap calon pelanggan di 11 kampung yang akan terlistriki. Pendataan tersebut mencakup kesiapan pemasangan instalasi rumah dan kWh meter bagi warga. Langkah ini dilakukan untuk memastikan percepatan penyambungan listrik rumah tangga segera setelah jaringan utama beroperasi.
Program tersebut sejalan dengan target dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang menetapkan sebanyak 2.000 calon pelanggan di wilayah tersebut akan menerima Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL). Bantuan ini diharapkan meringankan beban masyarakat berpenghasilan rendah dalam memperoleh akses listrik pertama kali.

Secara keseluruhan, proyek ini ditujukan untuk meningkatkan rasio elektrifikasi di wilayah Bomberay yang selama ini masih bergantung pada pembangkit listrik tenaga diesel skala kecil dengan jam operasi terbatas. Ketersediaan listrik selama 24 jam diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, memperluas akses layanan pendidikan dan kesehatan, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Pemerintah daerah bersama PLN dan pihak kontraktor menyatakan optimistis pekerjaan dapat kembali berjalan sesuai rencana setelah seluruh material utama tiba di lokasi. Dengan percepatan yang dilakukan di lapangan, penyalaan jaringan listrik untuk 11 kampung tersebut ditargetkan terealisasi sebelum pertengahan 2026.
Di tengah tantangan geografis dan logistik, proyek ini menjadi bagian dari upaya pemerataan pembangunan infrastruktur dasar di wilayah timur Indonesia—sebuah kerja infrastruktur yang menjadi fondasi bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat di kawasan terluar.








Komentar