Fakfak, Kabarsulsel-Indonesia.com | Di Kampung Patimburak, Distrik Kokas, Kamis, 29 Januari 2026, waktu seakan berhenti sejenak. Di sela prosesi sakral Pemancangan Tiang Alif Masjid Tua Patimburak—ritual yang menautkan iman, sejarah, dan identitas orang Fakfak—Bupati Fakfak Samaun Dahlan memaknai momen itu lebih jauh dari sekadar seremoni spiritual.
Di hadapan masyarakat adat, tokoh agama, dan warga kampung, Pemerintah Kabupaten Fakfak mempublikasikan 1.000 eksemplar Kalender Perkiraan Musim Tanam dan Musim Panen.
Sebuah langkah yang tidak berdiri sendiri, melainkan diletakkan tepat di jantung peristiwa sakral, sebagai simbol keseimbangan antara nilai spiritual, kearifan budaya, dan ikhtiar pembangunan ekonomi rakyat.
“Pembangunan tidak boleh tercerabut dari akar budaya,” ujar Samaun Dahlan.
Dalam momentum itu, ia menegaskan bahwa visi Fakfak Membara—Membangun Bersama Rakyat bukan sekadar slogan administratif, melainkan ikhtiar kolektif yang menghormati waktu, alam, dan tradisi.
Kalender musim tanam dan panen tersebut menjadi instrumen penting dari Program Strategis Pala Unggul, sebuah agenda besar Pemerintah Kabupaten Fakfak untuk menata ulang tata kelola komoditas pala—warisan alam yang sejak berabad-abad lalu telah mengharumkan nama Fakfak hingga ke pelabuhan dunia.
Lebih dari sekadar penunjuk bulan, kalender ini berfungsi sebagai rujukan bersama bagi petani dan pelaku usaha pala: kapan menanam, kapan menunggu, dan kapan memanen pada waktu yang tepat.
Tujuannya jelas—menjaga mutu pala Fakfak, memastikan panen sesuai standar kualitas, sekaligus meningkatkan nilai tambah yang berujung pada kesejahteraan petani secara berkelanjutan.
“Pala tidak boleh dipaksa oleh kebutuhan sesaat. Ia harus dipanen pada waktunya,” kata Samaun.
Pesan itu terdengar sederhana, namun sarat makna: tentang kesabaran, tentang menghormati siklus alam, dan tentang keberlanjutan.
Dengan kalender ini, pemerintah berharap terbangun kesepakatan kolektif di tingkat petani dan pasar, sehingga harga dan kualitas pala dapat dijaga bersama.
Langkah tersebut juga menjadi fondasi awal menuju hilirisasi perkebunan pala, dari kebun hingga produk olahan bernilai tinggi, yang mampu meningkatkan daya saing Fakfak di tingkat regional dan nasional.
Pemancangan Tiang Alif hari itu pun tak hanya menegakkan satu tiang bangunan, tetapi juga menegakkan arah: bahwa pembangunan Fakfak bertumpu pada harmoni antara iman, adat, dan ekonomi rakyat.
Dari Patimburak, Fakfak menata waktu—menunggu musim yang tepat, merawat pala dengan bijak, dan menjemput masa depan dengan penuh perhitungan.
Di tanah yang dikenal sebagai Kota Pala, waktu kini tak lagi sekadar berjalan. Ia direncanakan, dijaga, dan dihormati.







Komentar