Capaian Kinerja Tahun Pertama Fakfak Membara: Program Pala Unggul Mulai Menggerakkan Ekonomi Rakyat

Fakfak, Kabarsulsel-Indonesia.com | Pemerintah Kabupaten Fakfak mulai memetik hasil awal dari pelaksanaan Program Strategis Pala Unggul pada tahun pertama periode Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029.

Program ini menjadi salah satu instrumen utama pelaksanaan visi pembangunan “Fakfak Membara” (Membangun Bersama Rakyat), khususnya dalam penguatan komoditas pala sebagai basis ekonomi lokal dan penggerak kesejahteraan pekebun.

Melalui Dinas Perkebunan, pemerintah daerah merilis capaian kinerja Program Pala Unggul dan Program Distrik Berdaya sepanjang 2025. Meski masih berada pada fase awal implementasi RPJMD, sejumlah indikator menunjukkan kemajuan yang terukur—terutama dalam peningkatan produktivitas, penataan tata niaga, serta penguatan kelembagaan pekebun.

Kontribusi komoditas pala terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) menjadi salah satu capaian yang paling menonjol. Hingga akhir Desember 2025, Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak menutup buku kinerja komoditas pala dengan catatan yang melampaui ekspektasi awal.

Dalam delapan bulan sejak retribusi pala resmi diberlakukan, realisasi PAD dari komoditas unggulan ini mencapai Rp 531,5 juta, jauh melampaui target awal sebesar Rp 200 juta yang ditetapkan berdasarkan perhitungan potensi perdagangan antarpulau oleh Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Fakfak.

Lonjakan penerimaan ini mencerminkan dua hal sekaligus: meningkatnya volume dan nilai transaksi pala Fakfak, serta mulai efektifnya penataan tata kelola perdagangan yang lebih tertib dan transparan. Pemerintah daerah menilai capaian tersebut sebagai indikator awal keberhasilan reformasi tata niaga pala, sekaligus bukti bahwa pala tidak hanya bernilai kultural, tetapi juga memiliki daya ungkit fiskal yang signifikan bagi daerah.

“Capaian tahun pertama ini merupakan ringkasan hasil nyata—baik output maupun outcome awal—sebagai implementasi langsung visi dan misi Fakfak Membara,” ujar Plt. Kepala Dinas Perkebunan Fakfak, Widhi Asmoro Jati, S.T.,M.T saat merilis laporan kinerja program, Selasa lalu.

Produktivitas, Mutu, dan Insentif Pekebun

Dari sisi hulu, sepanjang 2025 pemerintah daerah memfasilitasi sertifikasi 60.781 bibit pala Tomandin bekerja sama dengan Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPT) Ambon melalui tiga unit penangkaran di Fakfak. Upaya ini menjadi fondasi peningkatan mutu genetik dan produktivitas pala Fakfak dalam jangka menengah dan panjang.

Pada saat yang sama, perluasan dan pengembangan areal tanam pala mencapai 303,75 hektare, yang berasal dari pembiayaan APBD, dukungan APBN melalui Anggaran Biaya Tambahan (ABT) 2025, serta peminatan mandiri melalui Program Gerakan Tanam Kebun (GERTAK). Program ini tersebar di hampir 15 distrik, mencakup 20 kampung dan 32 kelompok pekebun.

Sebanyak 445 calon petani dan calon lahan (CPCL)—mayoritas petani asli Fakfak—terlibat langsung dan menerima insentif tanam sebesar Rp 955 juta yang bersumber dari dana Otonomi Khusus 2025. Penyaluran insentif dilakukan secara langsung kepada pekebun melalui penguatan literasi keuangan bekerja sama dengan Bank BNI Fakfak.

Selain pala, Dinas Perkebunan juga mengembangkan komoditas perkebunan lain seperti kelapa genjah, pinang, kopi, tembakau negeri, dan sirih di 17 kampung sasaran. Total insentif stimulan tanam dan pemeliharaan untuk komoditas pendukung ini mencapai Rp 66,5 juta, yang diterima langsung oleh pekebun penerima manfaat.

Pengendalian OPT dan Penguatan Pascapanen

Untuk menjaga keberlanjutan produksi kebun rakyat, pemerintah menerapkan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) secara terpadu melalui pembentukan brigade pala di empat wilayah distrik. Pendekatan berbasis wilayah ini dinilai lebih adaptif terhadap karakter kebun rakyat dan tantangan perubahan iklim.

Di sisi hilir, perbaikan penanganan pascapanen terus dilakukan melalui peningkatan kapasitas pengeringan, sortasi, dan pengemasan, disertai upaya pengendalian harga jual pala di tingkat petani. Langkah ini membuka ruang hilirisasi dan peningkatan nilai tambah, sekaligus memperkuat posisi tawar pekebun dalam rantai nilai pala.

SDM, Kelembagaan, dan Infrastruktur

Penguatan sumber daya manusia menjadi fokus lain Program Pala Unggul. Sepanjang tahun pertama, pelatihan budidaya, pascapanen, mitigasi perubahan iklim, hingga kreativitas hilirisasi produk menyasar 140 pekebun pala, 55 pelaku usaha pala, 80 milenial pala, serta 35 anggota brigade OPT.

Dari sisi sarana dan prasarana, pemerintah membangun dan memelihara berbagai fasilitas pendukung, antara lain asaran pala modern dan tradisional, rumah jaga kebun pala komunal, rumah produksi minyak kayu putih, serta bantuan alat pascapanen bagi kelompok binaan.

Distrik Berdaya dan Spesialisasi Wilayah

Sejalan dengan Program Pala Unggul, Program Distrik Berdaya diarahkan untuk memastikan setiap wilayah memiliki komoditas unggulan sesuai potensi lokal. Pada 2025, Distrik Kramongmongga difokuskan sebagai wilayah pinang, Distrik Mbahamdandara sebagai wilayah kelapa pesisir, Lusiperi dan Mmabunibuni sebagai sentra kopi, serta Air Besar dan Wargeb sebagai wilayah pinang.

Langkah Awal Menuju Hilirisasi

Pemerintah Kabupaten Fakfak mengakui capaian tahun pertama ini belum sepenuhnya menjawab seluruh tantangan dan kebutuhan masyarakat. Namun, capaian tersebut dinilai sebagai langkah awal yang strategis dan terarah dalam membangun fondasi perkebunan daerah.

“Tahun 2026, fokus pembangunan akan diarahkan pada penguatan hilirisasi dan penataan tata niaga pala melalui Rencana Aksi Daerah (RAD) Pala yang akan ditetapkan dengan Peraturan Bupati,” kata Widhi.

Dengan pendekatan bertahap, berbasis potensi lokal, dan berorientasi pada ekonomi rakyat, Pemerintah Fakfak berharap Program Pala Unggul tidak hanya meningkatkan kesejahteraan pekebun, tetapi juga memperkuat identitas pala Fakfak sebagai komoditas unggulan nasional sekaligus penopang pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan.

Komentar