Fakfak, Kabarsulsel-Indonesia.com | Aktivitas belajar-mengajar di SD Inpres Dulanpokpok, Kabupaten Fakfak, terpaksa dihentikan sementara. Pemalangan oleh pemilik hak ulayat menjadi pemicu langsung, namun akar persoalan yang lebih mendesak adalah kondisi bangunan lantai dua sekolah yang rusak parah dan dinilai membahayakan keselamatan siswa maupun tenaga pendidik.
Plt. Kepala SD Inpres Dulanpokpok, Aminah, menyebut bangunan sekolah tersebut sudah lama tidak layak digunakan. Sejumlah bagian vital—lantai, plafon, hingga kanopi—mengalami kerusakan serius dan berpotensi roboh, terutama saat hujan dan angin kencang.
“Gedung ini sudah tidak layak lagi dipakai. Kami sangat khawatir, apalagi kalau hujan dan angin. Anak-anak ini orang punya anak, kalau terjadi apa-apa siapa yang bertanggung jawab,” kata Aminah saat ditemui di halaman sekolah, Senin, 26 Januari.
Usulan Mengendap, Sekolah Ambil Risiko
Menurut Aminah, pihak sekolah telah mengajukan laporan resmi sejak Desember 2025, lengkap dengan dokumentasi kondisi bangunan. Namun hingga kini, belum ada tindak lanjut dari instansi terkait.
“Surat sudah kami naikkan, bukti foto semua ada. Tapi sampai sekarang tidak ada yang turun melihat kondisi sekolah,” ujarnya.
Ketiadaan respons membuat guru-guru terpaksa mengambil langkah darurat. Proses belajar sempat dialihkan dengan sistem dua sesi—pagi dan siang—serta memanfaatkan ruang di lantai bawah dan bantuan ruang dari SD Inpres Dulanpokpok. Namun solusi itu bersifat sementara dan tetap menyimpan risiko keselamatan.
Saat ini, perpustakaan bahkan difungsikan sebagai ruang guru, sementara sejumlah kelas harus berbagi ruang dan waktu belajar.
Pemalangan dan Hak Ulayat
Di tengah kondisi bangunan yang memprihatinkan, persoalan hak ulayat turut memperkeruh situasi. Pemalangan dilakukan oleh pemilik hak ulayat di area belakang sekolah. Aminah menegaskan, pemalangan yang dilakukan pihak sekolah merupakan bentuk desakan agar pemerintah segera turun tangan, bukan untuk menghambat pendidikan.
Akibat pemalangan tersebut, seluruh aktivitas belajar-mengajar terhenti. Para siswa terpaksa diliburkan, sementara guru dihantui kecemasan atas keselamatan anak didik mereka.
Kadis Pendidikan Janji Turun Lapangan
Menanggapi situasi tersebut, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Fakfak, Saleh Hindom, S.K.M., M.P.H., mengatakan dirinya baru menerima informasi pemalangan pada Senin pagi, baik melalui laporan informal maupun unggahan di media sosial.
“Informasi pemalangan ini baru saya terima pagi tadi. Setelah selesai kegiatan polinef dalam rangka sosialisasi penerimaan mahasiswa baru, saya akan langsung menuju ke SD Inpres Dulanpokpok untuk melihat langsung kondisi di lapangan,” kata Saleh usai mengikuti rapat, Senin, 26 Januari.
Saleh menyebut ada dua hal utama yang akan menjadi fokus peninjauan: kondisi fisik bangunan sekolah yang diduga tidak lagi layak digunakan, serta persoalan hak-hak masyarakat adat yang kemungkinan belum terselesaikan.
“Saya akan inventarisir semua masukan—baik dari dewan guru maupun masyarakat adat—untuk kemudian kami rumuskan langkah-langkah konkret yang harus diambil,” ujarnya.
Belum Terakomodasi dalam Program 2026
Terkait perbaikan gedung sekolah, Saleh mengakui hingga saat ini dirinya belum melihat secara rinci perencanaan program tahun 2026 di lingkup Dinas Pendidikan. Hal itu lantaran ia baru dilantik sebagai kepala dinas pada 21 Januari 2026.
“Kalau memang SD Inpres Dulanpokpok belum terakomodir dalam program tahun 2026, maka kami akan bicarakan dengan pimpinan daerah untuk mencari solusi. Ini penting karena sangat mengganggu dan berpotensi mengganggu keberlangsungan pendidikan anak-anak,” katanya.
Belajar Harus Tetap Jalan
Saleh menegaskan, meski persoalan pemalangan dan bangunan sekolah masih berlangsung, proses belajar-mengajar harus tetap berjalan.
“Hari ini saya akan bertemu dewan guru, memeriksa fisik bangunan, dan meminta keterangan dari para pemilik hak ulayat. Prinsipnya, pendidikan anak-anak tidak boleh terhenti. Soal teknisnya nanti akan kami bicarakan bersama,” ujarnya.
Di tengah dinding yang retak dan kanopi yang menggantung, para siswa SD Inpres Dulanpokpok kini menunggu kepastian. Pendidikan mereka berada di persimpangan—antara hak untuk belajar dengan aman dan lambannya respons negara terhadap sekolah yang nyaris ambruk.







Komentar