Banda Neira, Kabarsulsel-Indonesia.com | Sebuah insiden laut menegangkan terjadi di perairan Pulau Suanggi, Kecamatan Banda Neira, Maluku, ketika kapal ikan KM Rajawali Perkasa 103 mengalami kecelakaan akibat hantaman ombak besar.
Beruntung, seluruh 11 anak buah kapal (ABK) berhasil menyelamatkan diri dan akhirnya dievakuasi oleh Tim SAR gabungan dalam operasi dramatis pada Senin (3/2).
Kronologi Kapal Tenggelam
Kapal KM Rajawali Perkasa 103, berbobot 120 GT, bertolak dari Pelabuhan Ambon pada Minggu (2/2) pukul 06.30 WIT dengan tujuan Larat. Namun, sekitar pukul 01.00 WIT, kapal dihantam gelombang besar di koordinat 4° 19’27,43834″ S – 129° 42’33,29251″ E, dekat Desa Meedeka, Pulau Suanggi. Kapal pun terseret hingga menghantam batu karang di sekitar pantai pulau tersebut.
Menyadari bahaya yang mengancam, Nahkoda Jemmy Pattipeyluhu segera memerintahkan seluruh ABK untuk berenang ke daratan terdekat. Setelah mencapai pantai, mereka bermalam di atas bukit Pulau Suanggi untuk menghindari kemungkinan bahaya lainnya.
Keesokan harinya, Senin (3/2) pukul 10.30 WIT, para ABK berusaha mencari sinyal komunikasi dengan naik ke menara suar di pulau itu. Pada pukul 11.20 WIT, salah satu ABK akhirnya berhasil menghubungi PT Rajawali, perusahaan pemilik kapal, yang kemudian mengoordinasikan bantuan ke Tim SAR Banda Neira.
Dramatis! Evakuasi Terkendala Gelombang Tinggi
Tim SAR Banda Neira yang mendapat laporan langsung bergerak cepat. Pukul 14.10 WIT, Tim SAR berkoordinasi dengan Pos TNI AL Banda Neira dan instansi maritim lainnya untuk melaksanakan operasi penyelamatan. Pukul 14.45 WIT, tim berangkat dari Pantai Kasteng menggunakan RIB (Rigid Inflatable Boat) menuju lokasi kejadian.
Setibanya di Pulau Suanggi pada pukul 16.10 WIT, Tim SAR menghadapi tantangan besar. Gelombang tinggi mencapai 2,5 – 3,5 meter, membuat perahu penyelamat sulit merapat ke pantai. Dalam situasi kritis ini, para ABK yang masih bertahan di pulau terpaksa berenang ke arah RIB SAR untuk bisa dievakuasi dengan selamat.
Akhirnya, pada pukul 17.15 WIT, seluruh korban tiba di Pantai Kasteng dalam kondisi selamat tanpa luka serius. Mereka kemudian dibawa ke rumah keluarga untuk mendapat perawatan dan pemulihan lebih lanjut.
Tim Penyelamat dan Kondisi Cuaca
Operasi penyelamatan ini melibatkan 2 personel SAR, 1 personel TNI AL, dan 1 personel Pol Airud. Tim menggunakan 1 unit RIB Pos SAR Banda Neira sebagai alat transportasi utama dalam misi ini. Cuaca saat operasi berlangsung cukup ekstrem, dengan angin dari Timur Laut berkecepatan 2-25 knot dan tinggi gelombang mencapai 3,5 meter.
Keselamatan Jadi Prioritas di Perairan Maluku
Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya keselamatan pelayaran di perairan Maluku yang terkenal dengan kondisi cuaca yang bisa berubah ekstrem sewaktu-waktu. Keberhasilan evakuasi ini juga menunjukkan kesiapan Tim SAR dan instansi maritim dalam menangani insiden laut secara cepat dan efektif.
Dengan seluruh ABK selamat, insiden tenggelamnya KM Rajawali Perkasa 103 berakhir tanpa korban jiwa. Ke depan, diharapkan kapal-kapal yang beroperasi di perairan Maluku lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca sebelum berlayar.







Komentar