Bodewin Wattimena: WFH Jumat Ditetapkan, Sampah Butuh Kesadaran, Pinjaman Terjamin

Ambon,Walikota Ambon, Bodewin Wattimena, memaparkan sejumlah kebijakan strategis usai membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrembang) RKPD Tahun 2027 di Hotel Kamari, Kamis (9/4/2026).

Dalam wawancaranya dengan awak media, Bodewin menegaskan bahwa kebijakan Work From Home (WFH) pada hari Jumat telah ditetapkan secara resmi dan akan diterapkan secara menyeluruh.

-Sistem Kerja Baru: 3 Hari Masuk, 2 Hari WFH

Bodewin menjelaskan, sistem kerja ini merupakan penyempurnaan dari formasi 32 yang sudah berjalan sebelumnya.

“Dulu kan kita jalan dengan formasi 32, artinya 3 hari kerja di kantor dan 2 hari WFH. Sekarang karena ditetapkan hari Jumat itu WFH secara menyeluruh, maka pola kerjanya disesuaikan. Ada yang masuk Senin, Selasa, Rabu, lalu Kamis dan Jumat di rumah. Ada juga yang masuk Rabu, Kamis, Jumat, lalu Senin dan Selasa libur atau WFH. Jadi Jumat itu bukan libur, tapi kerja dari rumah, tinggal menyesuaikan jadwal masing-masing,” jelas Bodewin.

-Pengelolaan Sampah: Kuncinya Ada di Kesadaran Masyarakat

Di sisi lain, Walikota menyoroti persoalan mendasar terkait pengelolaan sampah di Kota Ambon. Menurutnya, peraturan dan petugas saja tidak akan cukup tanpa peran serta warga.

“Saya tegaskan lagi, kita tidak akan berhasil soal sampah kalau masyarakat belum sadar. Kita mau melarang, Satgas mau berjaga berapa lama? Setiap kali kita kirim tim, anggaran pasti keluar, padahal anggaran kita terbatas,” ujarnya.

Untuk itu, Pemkot Ambon tengah membenahi infrastruktur. Pembangunan di sepanjang pesisir pantai Mardika dirancang untuk menata ruang agar tidak lagi menjadi tempat berjualan atau membuang sampah sembarangan ke laut.

“Saya sudah minta, pasar Batu Merah yang sedang dibangun harus dilengkapi dengan tempat pengolahan sampah, sehingga sampah bisa dikelola langsung di situ. Laut itu luas, mana mungkin pemerintah bisa menjaga setiap jengkal pantai? Kita hanya bisa mengedukasi dan menghimbau agar masyarakat tidak membuang sampah,” tambahnya.

-Rencana Pinjaman: Terukur dan Bisa Dikembalikan

Menanggapi rencana peminjaman dana untuk pembangunan, Bodewin memastikan hal tersebut sudah diperhitungkan dengan sangat matang sehingga tidak membebani daerah.

“Merencanakan pinjaman berarti juga merencanakan cicilan. Kita hitung pendapatan kita per bulan, setelah bayar semua kebutuhan, sisanya berapa. Sisa itulah yang dipakai untuk mencicil,” tegasnya.

Dijelaskan, target waktu pengembalian dana dipatok maksimal selama 3 tahun dengan skema bunga yang telah disepakati bersama pihak perbankan.

“Ada cara hitungnya dan itu sudah kami kalkulasi. Yang pasti, kita menjamin bahwa pinjamannya pasti bisa kita kembalikan,” pungkas Bodewin Wattimena.

(M.N)

Komentar