Fakfak, Kabarsulsel-Indonesia.com | Siang itu, halaman Asrama Putri Santa Theresia di Jalan Letjen MT Haryono, Fakfak, tampak lebih hidup dari biasanya. Senyum anak-anak sekolah menyambut kedatangan Lusia Imakulatta Hegemur, Anggota DPR Provinsi Papua Barat Fraksi Otonomi Khusus (Otsus), yang melaksanakan Reses I di Daerah Pemilihan Kabupaten Fakfak.
Kunjungan itu bukan sekadar silaturahmi politik. Lusia datang membawa bantuan kasih berupa sembako—beras, telur, susu, gula, dan kebutuhan pokok lainnya—sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan hidup anak-anak yang menempuh pendidikan jauh dari kampung halaman mereka.
Namun lebih dari itu, ia datang untuk mendengar.
Di ruang pertemuan sederhana asrama, pengelola dan para siswi menyampaikan harapan mereka. Asrama yang menampung anak-anak Asli Papua—bukan hanya dari Fakfak, tetapi juga dari daerah lain seperti Wamena, Tambrauw, dan Maybrat—masih menghadapi keterbatasan fasilitas penunjang belajar. Kebutuhan akan sarana pendidikan, ruang belajar yang memadai, serta dukungan operasional menjadi catatan penting yang disampaikan langsung kepada wakil rakyat itu.

Bagi anak-anak tersebut, asrama bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah jembatan menuju masa depan. Di sanalah disiplin dibentuk, karakter ditempa, dan cita-cita dirawat dalam kebersamaan.
Lusia menyimak dengan serius setiap masukan. Ia memahami bahwa pendidikan berpola asrama memiliki peran strategis, terutama bagi anak-anak Papua yang datang dari wilayah dengan akses pendidikan terbatas. Menurutnya, sistem ini terbukti efektif membangun kedisiplinan, memperkuat karakter, serta meningkatkan kemampuan kognitif anak.
“Pola pendidikan asrama harus mendapat perhatian lebih. Ini bukan hanya soal tempat tinggal, tetapi tentang pembinaan generasi Papua yang unggul dan berdaya saing,” ujarnya.
Ia pun berkomitmen mendorong Pemerintah Provinsi Papua Barat agar memperkuat program pendidikan berbasis asrama, baik melalui peningkatan fasilitas maupun dukungan kebijakan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.

Reses di Asrama Santa Theresia itu menjadi penegasan bahwa kerja politik tak melulu soal regulasi dan rapat-rapat formal. Ia juga tentang menyentuh langsung denyut kebutuhan masyarakat—tentang hadir di tengah anak-anak yang sedang menata mimpi.
Di penghujung kunjungan, bantuan sembako mungkin akan habis dalam hitungan waktu. Namun harapan yang ditanamkan pagi itu, jika dikawal dengan kebijakan yang tepat, berpotensi tumbuh jauh lebih lama—menjadi fondasi bagi lahirnya generasi Papua yang tangguh, terdidik, dan bermartabat.








Komentar