Tantangan Guru dan Polarisasi Media Sosial dalam Membentuk Karakter Siswa di Tengah Pemberlakuan AI & Coding pada Kurikulum Nasional 2025/2026

Uncategorized221 views

Kabarsulsel-Indonesia.com.

Oleh : Gerry Ubra,S.Pd,CPSE, Guru SMA Negeri 1 Tual

Perubahan besar sedang terjadi dalam dunia pendidikan Indonesia. Mulai tahun ajaran 2025/2026, pembelajaran Artificial Intelligence (AI) dan coding resmi masuk sebagai bagian kurikulum sekolah untuk menyiapkan generasi digital yang kompetitif.

Kebijakan ini bukan sekadar penambahan mata pelajaran baru, melainkan transformasi paradigma pendidikan: dari hafalan menuju kemampuan berpikir komputasional, analitis, dan kreatif.

Namun di balik optimisme tersebut, muncul pertanyaan penting: Apakah Pendidikan Karakter Siswa Siap Menghadapi Percepatan Teknologi? Di sinilah guru menghadapi tantangan terbesar — bukan hanya mengajar teknologi, tetapi menjaga kemanusiaan di tengah dunia digital yang semakin terpolarisasi oleh media sosial.

1. Guru di Persimpangan: Pengajar atau Penjaga Moral?

Selama puluhan tahun, guru berperan sebagai sumber ilmu sekaligus teladan karakter. Tetapi era digital mengubah struktur otoritas di kelas.

Sekarang siswa belajar dari: TikTok, YouTube, AI chatbot, forum online, influencer.

Bahkan sebelum guru menjelaskan materi, siswa sering sudah memiliki opini — bukan dari buku, melainkan dari algoritma.

Masalahnya, algoritma media sosial tidak dirancang untuk kebenaran, melainkan engagement.

Konten yang paling emosional, kontroversial, dan ekstrem justru paling cepat viral.

Akibatnya, guru tidak lagi hanya menghadapi “ketidaktahuan”, tetapi prasangka digital.

Penelitian menunjukkan penggunaan media sosial tanpa pengawasan berdampak pada: Menurunnya kesopanan, Kurang fokus belajar, Sikap acuh terhadap lingkungan.

Di kelas modern, guru bukan hanya menjelaskan pelajaran — tetapi meluruskan persepsi.

2. Polarisasi Media Sosial: Sekolah Melawan Dunia Virtual

Media sosial menciptakan ruang gema (echo chamber). Siswa cenderung hanya melihat informasi yang sesuai dengan keyakinannya.

Akibatnya muncul: Debat tanpa empati, Kebencian digital, Labelisasi teman, Fanatisme opini.

Dalam studi pendidikan digital, 95% siswa pernah melihat ujaran kebencian dan 40% mengaku pernah terlibat di dalamnya.

Fenomena ini masuk ke ruang kelas: Diskusi berubah jadi konflik, Kritik dianggap serangan, Perbedaan dianggap permusuhan

Padahal sekolah adalah tempat belajar berpikir, bukan tempat mempertahankan ego.

Di sinilah peran guru semakin berat: Mengajarkan Logika Di Tengah Budaya Reaksi.

3. AI & Coding: Kemajuan atau Ancaman Karakter?

Pemerintah memasukkan AI dan coding untuk membentuk generasi adaptif, kreatif, dan kritis. Namun teknologi memiliki dua sisi.

Dampak Positif

AI dapat: membantu belajar mandiri, memberi umpan balik cepat, melatih problem solving, meningkatkan kreativitas

Dampak Negatif

Tanpa bimbingan karakter: siswa jadi instan, menyalin jawaban AI, kehilangan proses berpikir, menurunkan daya juang

Bahkan diskusi global tentang AI di pendidikan menyoroti kekhawatiran terkait integritas akademik dan kemampuan belajar.

Masalahnya bukan AI-nya, tetapi Cara Manusia Menggunakannya.

Guru kini menghadapi generasi yang bisa menjawab soal dalam 5 detik — tetapi belum tentu memahami nilai kejujuran.

4. Pendidikan Karakter Tidak Bisa Digantikan Teknologi

AI bisa menjelaskan rumus, AI bisa membuat esai, AI bisa memberi nilai,

Tetapi AI tidak bisa: merasakan empati, membentuk hati Nurani, menanamkan tanggung jawab, menjadi teladan hidup. Karakter tidak lahir dari informasi — melainkan dari relasi.

Karena itu, masuknya AI justru memperjelas fungsi sejati guru: Bukan Pusat Pengetahuan, Melainkan Pusat Pembentukan Manusia.

5. Tantangan Nyata Guru 2026

a. Literasi Digital Lebih Penting dari Literasi Buku

Guru harus mengajarkan: membedakan fakta vs opini, mengenali hoaks, etika berkomentar, tanggung jawab digital

Tanpa itu, kecerdasan teknologi hanya mempercepat kesalahan.

b. Mengajar Nilai di Era Viral

Siswa kini mengukur benar-salah berdasarkan popularitas. Padahal nilai moral sering tidak viral, Guru harus berani mengajarkan: “Yang Benar Belum Tentu Ramai, Yang Ramai Belum Tentu Benar.”

c. Menjadi Moderator Polarisasi

Guru bukan lagi hanya fasilitator belajar, tetapi mediator konflik opini.

Kelas modern membutuhkan: dialog, empati, perspektif, Bukan hanya jawaban.

6. Solusi: Pendidikan Karakter Berbasis Digital

Masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan melarang teknologi. Yang dibutuhkan adalah Integrasi Nilai Ke Dalam Teknologi.

Pendekatan yang perlu dilakukan sekolah : Etika penggunaan AI sebagai bagian kurikulum, Diskusi reflektif tentang konten viral, Penilaian proses, bukan hanya hasil, Proyek kolaborasi, bukan kompetisi ego. Guru sebagai mentor digital, bukan polisi gadget

Dengan demikian siswa tidak hanya pintar menggunakan teknologi, tetapi juga bijak.

Penutup: Masa Depan Pendidikan Ditentukan Karakter

AI dan coding akan menciptakan generasi cerdas, Namun hanya karakter yang menciptakan peradaban. Jika sekolah hanya mengejar kompetensi teknologi, kita mungkin menghasilkan programmer hebat — tetapi manusia rapuh.

Sebaliknya, jika guru mampu memadukan: teknologi, literasi media, pendidikan karakter, maka Indonesia tidak hanya menghasilkan pengguna AI, tetapi pemimpin masa depan.

Akhirnya, tantangan terbesar guru bukanlah mengajari mesin kepada manusia, melainkan menjaga manusia tetap manusia di tengah mesin. Karena di era kecerdasan buatan, Yang Paling Langka Justru Kebijaksanaan Alami.

(Elang Kei)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar