Fakfak, Kabarsulsel-Indonesia.com | Pemerintah Kabupaten Fakfak mulai membenahi fondasi hulu perkebunan pala—komoditas unggulan daerah yang telah lama menjadi identitas ekonomi dan sejarah Fakfak.
Upaya ini dilakukan melalui penataan kembali Blok Penghasil Tinggi dan Pohon Induk Terpilih (BPT–PIT) Pala Tomandin, yang menjadi sumber utama benih unggul bersertifikasi sekaligus benteng perlindungan Indikasi Geografis (IG).
Langkah tersebut merupakan bagian dari rencana aksi Program Strategis Pala Unggul Fakfak, sejalan dengan visi pembangunan daerah Fakfak Membara.
Fokusnya jelas: memperkuat budidaya pala dari hulu agar seluruh mata rantai pengembangan—mulai dari peremajaan kebun, peningkatan produksi, hingga hilirisasi—berjalan berkelanjutan dan berdaya saing.
Kepala Dinas Perkebunan Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST, MT, mengatakan pembenahan BPT–PIT menjadi tahapan awal yang tidak bisa ditawar.
“Keberhasilan pengembangan pala Fakfak sangat ditentukan oleh kualitas sumber benih. Tanpa fondasi hulu yang kuat dan terstandar, seluruh upaya di hilir akan rapuh,” ujarnya saat mengerahkan tim teknis untuk melakukan intervensi langsung pada delapan kebun BPT, Jumat (23/1/2026).
Delapan kebun tersebut merupakan kawasan produksi varietas unggul Pala Tomandin Fakfak yang telah ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 87/KPTS/KB.20/12/2016.
Selain berfungsi sebagai sumber benih, kawasan ini memegang peran strategis sebagai penjaga kemurnian karakter pala Fakfak yang telah diakui melalui Indikasi Geografis.
Widhi menjelaskan, pembenahan dilakukan melalui penataan kebun secara menyeluruh: penomoran dan verifikasi ulang pohon induk, pemupukan berimbang, pengendalian hama dan penyakit, hingga pengelolaan budidaya yang terstandar.
Langkah ini bertujuan memastikan bahwa benih yang dihasilkan benar-benar berasal dari pohon induk yang sehat, produktif, dan memiliki karakteristik khas Pala Tomandin sebagaimana tercantum dalam dokumen deskripsi IG.
“BPT berfungsi sebagai instrumen pengendalian mutu di hulu. Dari sinilah kita mencegah degradasi kualitas dan masuknya benih dari luar wilayah IG yang berpotensi menghilangkan kekhasan pala Fakfak,” katanya.
Ia menegaskan pentingnya kehati-hatian dalam penggunaan bibit. Dalam praktik di lapangan, sering ditemukan istilah lokal seperti pala selingkuh atau pala pornakan—tanaman pala dengan asal-usul benih yang tidak jelas.
“Kesalahan menanam bibit akan berdampak panjang. Karena itu, sumber benih harus benar-benar terjamin,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan anggaran daerah, Pemerintah Kabupaten Fakfak terus membangun komunikasi dengan Kementerian Pertanian melalui skema tugas pembantuan.
Tahun ini, dukungan pupuk dari kementerian dimanfaatkan untuk membenahi kebun induk, termasuk pemberian nutrisi organik secara intensif agar pohon-pohon pala yang telah berusia lanjut tetap produktif.
Data Dinas Perkebunan Fakfak mencatat, delapan kebun BPT tersebut memiliki luas sekitar 16,2 hektare dengan populasi 2.150 pohon pala yang tersebar di Kampung Wurkendik, Werba, Wrikapal, Mandopma, Firma, dan Wambar.
Pohon-pohon ini ditanam sejak 1916 hingga 1943, sehingga kini berusia antara 83 hingga 109 tahun. Dari jumlah tersebut, 136 pohon telah ditetapkan sebagai Pohon Induk Terpilih karena mampu menghasilkan rata-rata 2.000 benih per tahun.
“Dengan pembenahan ini, Blok Penghasil Tinggi tidak hanya menjadi kawasan produksi benih varietas unggul, tetapi juga benteng utama perlindungan Indikasi Geografis Pala Tomandin Fakfak,” kata Widhi.
Ia menekankan, intervensi BPT–PIT bukan sekadar kegiatan teknis, melainkan langkah strategis yang akan menentukan arah, keberlanjutan, dan keberhasilan seluruh Program Pala Unggul Fakfak. Dari kebun induk inilah masa depan pala Fakfak—sebagai komoditas unggulan berdaya saing nasional dan global—ditentukan.







Komentar