Tual ,Kabarsulsel-Indonesia.com. Gerakan Edukasi Perempuan Kei resmi dimulai melalui kegiatan nonton bareng (nobar) film “Mars: Mimpi Ananda Sejuta Cita” yang digelar sebagai titik awal (starting point) perjuangan kolektif dalam mendorong pendidikan perempuan dan anak di wilayah Kepulauan Kei, Kabupaten Maluku Tenggara.
Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Maluku Tenggara sekaligus Dewan Pembina Gerakan Edukasi Perempuan Kei, Bin Raudha Arif Hanoeboen, SE., M.E., mengatakan gerakan ini lahir dari kegelisahan para aktivis perempuan terhadap potret pendidikan di Kei, khususnya yang masih memarginalkan perempuan. Kaffe 21 Kota Tual, ( Sabtu ‘ 17 / 01/ 2026)
“Gerakan ini berangkat dari kegelisahan beberapa aktivis perempuan di Maluku Tenggara dan Kei pada umumnya, tentang kondisi pendidikan perempuan yang belum sepenuhnya berkualitas,” ujar Bin Raudha dalam sambutannya, Sabtu malam.
Ia menegaskan, meskipun banyak perempuan asal Kei yang telah menempuh pendidikan tinggi dan berkiprah di berbagai sektor, namun masih terdapat perempuan-perempuan lain yang belum memperoleh akses pendidikan yang layak akibat berbagai faktor.
“Kendalanya bukan semata ekonomi atau akses, tetapi masih kuatnya stigma di masyarakat yang menempatkan perempuan sebagai kelas dua, seolah tidak perlu mengenyam pendidikan tinggi,” jelasnya.
Menurut Bin Raudha, kegelisahan tersebut mendorong para aktivis perempuan untuk membangun sebuah wadah perjuangan bersama, agar upaya edukasi perempuan tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan terkonsep dan berkelanjutan.
“Kami berdiskusi, menyatukan gagasan, dan dari situlah lahir Gerakan Edukasi Perempuan Kei. Kegiatan malam ini menjadi titik awal gerakan tersebut,” katanya.
Film “Mars: Mimpi Ananda Sejuta Cita” dipilih karena menggambarkan perjuangan seorang ibu yang secara sunyi melawan stigma dan keterbatasan demi masa depan pendidikan anaknya.
“Ini adalah gerakan sunyi seorang perempuan. Tanpa teriakan dan hingar-bingar, tapi dampaknya luar biasa bagi masa depan anaknya. Ini pesan kuat bagi kita semua,” ujarnya.
Ia berharap film tersebut mampu memotivasi para perempuan Kei agar tidak menyerah pada keterbatasan ekonomi maupun stigma sosial.
“Anak adalah investasi masa depan. Perempuan harus cerdas, karena perempuan yang cerdas akan melahirkan generasi yang cerdas,” tegasnya.
Bin Raudha juga menegaskan komitmen Pemerintah Daerah Kabupaten Maluku Tenggara melalui Dinas Pendidikan untuk terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat.
“Kami terbuka untuk bersinergi dengan ORMAS, OKP, dan seluruh lapisan masyarakat. Pembangunan pendidikan tidak mungkin berjalan tanpa partisipasi masyarakat,” katanya.
Di sisi lain, ia mengakui masih terdapat pekerjaan rumah besar di sektor pendidikan, mulai dari rapor mutu pendidikan, sarana dan prasarana, hingga distribusi guru.
“Terdapat 15 Standar Pelayanan Minimal bidang pendidikan yang menjadi tolak ukur kinerja pemerintah daerah. Semua itu telah kami tuangkan dalam program kerja tahun 2026,” ungkapnya.
Dengan dukungan dan pengawalan masyarakat, ia optimistis kualitas layanan pendidikan di Kabupaten Maluku Tenggara akan terus meningkat.
“Dengan kolaborasi yang kuat, kami yakin dapat memberikan layanan pendidikan yang lebih baik bagi masa depan Maluku Tenggara,” pungkasnya.
( BR )







Komentar