Tegaskan Komitmen Rawat Perdamaian Di kota Ambon, Klasis GPM Ambon Gelar Kegiatan Remaja Baku Dapa Lintas Iman Tahun 2025

Uncategorized339 views

Ambon,Kabarsulsel-Indonesia.com.  Sebagai bentuk komitmen untuk merawat perdamaian dan memperkuat lintas iman di kota Ambon, Klasis Gereja Protestan Maluku (GPM) kota Ambon menggelar kegiatan Remaja Baku Dapa Lintas Iman (REBALi), yang melibatkan anak dan remaja dari Airsalobar dan pohon mangga dari dua komunitas Muslim dan Kristen.

Kegiatan yang bertemakan, Anak Ambon Cinta Damai, Beta Par Ambon, Ambon Par Samua, berlangsung di Pengeringan Pantai Airsalobar kecamatan Nusaniwe kota Ambon, Senin (29/12/2025).

Sekretaris Umum MPH Sinode GPM, Pdt. H.R. Tupan, kepada wartawan menyampaikan bahwa, kegiatan yang digagas oleh GPM Klasis Pulau Ambon tersebut telah berjalan selama lima tahun terakhir. Program ini pada awalnya dirancang untuk meredam ketegangan sosial di kawasan Pohon Mangga, namun dalam perkembangannya justru menjadi ruang perjumpaan yang membangun relasi persaudaraan dan solidaritas antarumat beragama.

“Lima tahun lalu kegiatan ini dibangun untuk meredam ketegangan. Puji Tuhan, kegiatan ini berhasil dan melahirkan kehidupan bersama yang saling menjaga, saling menyayangi, dan saling menghormati,” Ungkap Tupan

Menurutnya, hingga kini tercatat sekitar 570 anak dan remaja telah menjadi lulusan dari berbagai kegiatan lintas iman tersebut. Dan kedepan GPM berencana melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program selama lima tahun, sekaligus memperluas jangkauannya ke wilayah lain di Kota Ambon.

“Tahun depan kita akan kumpulkan kembali untuk evaluasi. Kita ingin membuat kegiatan ini lebih besar agar wilayah lain juga terimbas, seperti Ambon Utara, Ambon Timur, bahkan seluruh Kota Ambon,” ujarnya.

Dikatakan Tupan, tidak menutup kemungkinan program ini akan dikembangkan ke komunitas lintas agama lainnya, termasuk Katolik, Hindu, dan Buddha, sebagai bagian dari upaya memperkuat persatuan dan harmoni sosial di Maluku.

Ia juga menegaskan agar, anak-anak dan remaja menjadi fokus utama kegiatan ini sebagai investasi perdamaian jangka panjang.

“Benih-benih perdamaian harus ditanam sejak dini. Lima hingga dua puluh tahun ke depan, mereka inilah yang akan menjadi pemuda dan orang dewasa yang telah dibentuk dengan nilai-nilai damai,” jelasn Tupan.

Di kesempatan yang sama mewakili Wali Kota Ambon, Staf Ahli Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat, Rustam Simanjuntak, menyampaikan apresiasi atas inisiatif GPM bersama komunitas lintas iman yang konsisten menggelar kegiatan tersebut.

Pemerintah Kota Ambon sebut Simanjuntak, memberikan dukungan penuh terhadap program-program yang berorientasi pada perdamaian.

“Tidak mudah mengumpulkan anak-anak dan remaja lintas iman dalam satu ruang kebersamaan. Karena itu, Kota Ambon kami dorong menjadi rujukan pengembangan komunitas cinta damai di Maluku,” ujarnya.

Menurutnya, meskipun kegiatan serupa juga berlangsung di daerah lain, Kota Ambon dinilai berhasil mengemasnya secara sistematis, simultan, dan berkesinambungan, sehingga dampaknya dapat dievaluasi secara lebih terukur.

Hal yang sama juga disampaikan Ketua MPK Pulau Ambon, Pdt. W.A. Beresaby. Menurutnya gereja menjalankan mandat rekonsiliasi dengan menjadikan anak-anak sebagai basis strategis pembangunan perdamaian pascakonflik.

“Anak-anak ini lahir setelah konflik 1999. Karena itu penting bagi mereka untuk berkumpul dan mendapatkan narasi yang benar dari orang-orang yang tepat,” katanya.

Pelaksanaan tahun kelima tambah Beresaby, jumlah peserta mencapai sekitar 530 anak, dengan dukungan penuh dari orang tua serta aparat lingkungan RT dan RW. Seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan izin tertulis dari orang tua sebagai bagian dari pendekatan persuasif dan partisipatif.

Beresaby, berharap mereka menjadi agen dan pewaris damai di kota ini. Dampaknya mungkin belum sepenuhnya terukur secara kuantitatif, namun secara kualitatif sudah sangat terasa di lingkungan sekitarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa refleksi anak-anak selama kegiatan telah dibukukan dalam “Cermin Harmoni”, yang memuat luapan perasaan dan pengalaman mereka selama mengikuti perjumpaan lintas iman.

“Mereka menulis dengan hati yang polos dan penuh sukacita karena bisa baku dapa dan berkegiatan bersama. Ini menjadi bukti bahwa ruang damai memang perlu direkayasa dan terus dirawat,” pungkas Beresaby.

(M.N)

Komentar