Ketum PITI Sesalkan Pernyataan Fadli Zon soal Tragedi 1998: Jangan Buka Luka Lama demi Kepentingan Politik

Daerah, Jakarta337 views

Jakarta, Kabarsulsel-Indonesia.com | Ketua Umum Persaudaraan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Dr. Ipong Hembing Putra, menyampaikan pernyataan sikap resmi menanggapi pernyataan politisi Fadli Zon yang dinilai memantik kontroversi dan membuka kembali luka lama terkait tragedi kemanusiaan Mei 1998.

Dalam pernyataannya yang diberi tajuk “Salam Persaudaraan”, Dr. Ipong menyesalkan pernyataan Fadli Zon yang dinilai tidak sensitif terhadap penderitaan korban, khususnya perempuan keturunan Tionghoa yang menjadi korban kekerasan dalam peristiwa kelam tersebut.

“Tragedi Mei 1998 merupakan babak paling kelam dalam sejarah kebangsaan kita. Banyak keluarga etnis Tionghoa yang masih menyimpan trauma mendalam dan memilih diam demi menjaga persatuan. Pernyataan yang mempertanyakan atau mengecilkan penderitaan mereka sangat tidak bijak di tengah upaya kita membangun harmoni kebangsaan yang inklusif,” ujar Dr. Ipong.

Ia menekankan bahwa narasi semacam itu tidak hanya menyakiti perasaan korban dan keluarganya, tetapi juga berpotensi mengganggu semangat rekonsiliasi nasional yang sedang dibangun.

Dr. Ipong juga menyerukan agar Fadli Zon sebagai tokoh publik dan wakil rakyat melakukan introspeksi dan menunjukkan empati, alih-alih memunculkan pernyataan yang justru memecah belah.

“Tokoh nasional memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi jembatan persatuan, bukan sumber perpecahan. Sejarah memang harus dicatat secara objektif, tetapi tidak boleh kehilangan kepekaan terhadap penderitaan manusia,” tegasnya.

Menutup pernyataannya, Dr. Ipong mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus menjaga semangat kebangsaan, memperkuat nilai persaudaraan dalam kebinekaan, dan tidak menjadikan luka sejarah sebagai alat dalam perdebatan politik yang tidak produktif.

“Mari kita rawat luka sejarah dengan empati, bukan dengan retorika yang kering dari rasa kemanusiaan. Demi masa depan Indonesia yang lebih kuat dalam keberagaman,” tutup Dr. Ipong.

Komentar